Tuesday, July 7, 2009
aku di sini
rinduku padamu...
sejuta cerita untukmu...
sejuta rasa untukmu...
sejuta untukmu...
-little aya_
Sunday, March 15, 2009
Jeruk オレンジ Orange Anaranjado or Whateva!

Monday, February 23, 2009
Thursday, January 15, 2009
kentu^, kentut, and today...
Jadilah saya mengerjakan ujian dengan semena mena. Saya (tidak) menyesal! Mungkin nanti saya akan (tidak) menyesal ketika mendapatkan IP yang rendah setelah satu tahun tidak menjalani ujian karena bla bla bla.
Hal kedua (yang tadi yang pertama lho ya) adalah : saya bergembiraaa! Akhirnya semua membuahkan hasil hohoho... Proposal kami udah jadi... Fiuh, berkurang satu beban saya... Beban kami semua... Hanya itu yang bisa saya lakukan sebelum bersemedi di Petungkriyono selama dua minggu... Proposal dicap dan siap ditebar (mang bibit hahaha)...


Hal ketiga adalah mengenai status saya yang ada di Facebook. Awalnya saya berstatus :
yang ternyata jika dihilangkan ^nya akan berarti saru (tidak sopan) dalam bahasa Jawa, artinya adalah Fu*k. Terima kasih atas koreksinya tetapi bukan itu yang saya maksud, melainkan kentut (buang angin).
Dari sini saya menjadi semakin merasa sedikit gimana (gitu) dengan masalah bahasa. Merujuk pada postingan saya yang juga membahas masalah bahasa-nya Eyang Malinowski.
Hufh, saya harus kembali berkutat (semoga satu kata ini tidak berarti saru dalam bahasa bahasa tertentu) dengan my Yui... I hate Friday!!! HECTIC semuaaaah!! HECTIC teruuuuuuuuuus!
Wednesday, January 14, 2009
[Terkutuklah] Windows Asli beserta Vista [2]
Aku cinta Yui!!!
Tuesday, January 13, 2009
Terkutuklah Windows Asli beserta Vista
Huwwaaaaa kalimatku njelimet... VIRUS SIALAN!!! WORM SIALAN!!! I HATE YOU SOOOOOO MUCH!!!!!!
DAENK DAENK DAENK!!! TRAKTIR TIRAMISU (jadi inget daenk gara gara tadi "ketemu"...)
Sunday, January 11, 2009
I love this sunny morning (musume lho lho lho)
Huwaaa!!! I cant describe how happy i am right now!!! Si bocah tua nakal (hehehe peace) just visited my blog 7 hours ago. He wrote :
Oh nooo!!! What a stupid little Aya!!! I have to treat you someday!!! Hahaha... He also wrote :
Pssst Pssst : bingung dengan kata pertama untuk memulai laporan! Together we can... Can be a crazy people hahaha
Be differerent is not a stupid crime!!!
Tiramisu VS Ice Cream
Jadi inget terakhir makan es krim di Mc D Sudirman (maaf kan, aku bukan mau sengaja nyumbang buat pihak pihak tertentu lho...). Gila, asoy geboy banget tapi aku bukan penggemar berat es krim lho! Hanya di saat saat tertentu aja. Oh ya jadi inget ada yang utang es krim sama aku 1 liter!!! Hoi hoi hoiii bayar hoiii! Dah berapa taon tuh utangnya??? Aku paling suka rasa blueberry, orange, daaan strawberry!!! Tapi yang ada potongan buahnya hehehe... Oishiiiiiii!!!Nah, laen lagi dengan tiramisu (plis jangan dipelesetin jadi tirami-a-su hohoho)
Tiramisu ngingetin aku sama Anti Komsi 05 yang sekarang jadi anak Ext Ikomp hehehe. Kita keliling keliling cari tiramisu, ke mana mana halah... Akhirnya nemu di kedai Cokelat tapi katanya bahannya susah didapet jadi menu itu kosong siaaaaaaaaal!!! Itu 3 tahun yang lalu mungkin, tapi tahun 2007 aku nemu di KeKo (Kedai Kopi), tapi makannya bukan sama Anti, melainkan Adis hehehe.Katanya ada makna dan aturan dalam dua jenis makanan itu, guess what??!
Saturday, January 10, 2009
Tidur : Anugerah atau Bencana?

Hey, aku memecahkan rekor tidurku di tahun 2005 dulu. Itu waktu aku masih jadi anak kos di Blangkonet (sebelah Fisipol lama-kampus paling ujung di UGM). Aku lupa detailnya (duh itulah gunanya catatan etnografis lho lho lho?) tapi yang jelas waktu itu aku habis ngikutin acaranya Himakom di Kaliurang.
Kali ini, aku tidur dari pukul 02.30 an dini hari sampai pada pukul 18.30 an petang (malam) hari. Alasan yang aku buat buat adalah karena sudah ebrapa lama ini aku disibukkan (cuih, bangke banget bahasanya) oleh tugas tugas UAS. Duh mungkin ga cuma aku (pastinya) yang merasakan bahwa menjelang dan sewaktu UAS, adalah hectic days... Tidur pagi bangun pagi adalah hal yang biasa, diburu buru ngeprint, berebut pinjaman buku di UPT, dan kegilaan kegilaan lainnya.
Puncaknya adalah hari ini ketika aku mendapati sekelilingku gelap gulita (gundah gulana) dan keadaan di luar berangin (sumpah Jogja nakutin banget tadi). Aku terbangun karena getaran hp tanda sms diterima dari seorang teman (Fiit jelek kek bebek). Isinya :
tolong gak.jemput gw
dkompa mau pulang kekos
tp bis ga ado.aku cape bwt
jalan eung.
Aku bangun terhuyung dala kegelapan (belum sadar kalo ternyata daerahku di Pogung Lor dan Pandega Marta mati lampu). Aku menuju kamar adekku, kutendang tendang kasurnya sambil memanggil manggil namanya. Tetapi tidak ada sautan, berarti dia tidak ada di kamar. Aku langsung menuju kamar mandi, buang air kecil, cuci muka, dan sikat gigi. Tapi aku ga tau itu punya siapa hahaha, maklum gelap... Kalo ga punya aku ya punya Kiki atau Ijal... Bodo'... Aku raih aja hp buat penerangan, aku pake sweater biru garis garis, celana panjang hitam, dan kerudung biru dongker, tak lupa kaos kaki bergambar cherry merah (tapi yang ini ga dipake, jaga jaga aja kalo ntar kedinginan, masukkan dalam tas jinjing) hehehe...
Bodonya aku, aku tuh punya persediaan lilin ternyata! Tapi aku sadar setelah siap berangkat! Huhuhu benar benar terkena gangguan frekuensi otak karena tidur 19 jam! Pa udah di garasi, aku dapet sms lagi dai si Fiit :
Langsung aja tuh aku esmosi, aku balas dengan :
P.S : aku tetap akan menulis tentang perahu pinisi!!
Wednesday, January 7, 2009
The Freedom Writers : A Toast for Change
...from this moment on,
every voice that told you,“you can’t” is silenced!
Every reason that tells you : things will never change,
disappears...
Pada tanggal 31 Desember, saya diberi film menarik oleh adik saya. The Freedom Writers. Pada awalnya saya mengira bahwa ini adalah film tentang jurnalistik atau semacamnya. Ternyata ini adalah sebuah film yang diangkat dari sebuh kisah nyata tentang rasisme yang terjadi di Long Beach, California. Tugas ini saya tulis dengan menggunakan format penulisan karya ilmiah populer agar lebih menarik. Mohon maaf sebelumnya.
SINOPSIS
Erin Gruwell (diperankan oleh Hillary Swank) berprofesi sebagai guru bahasa Inggris ketika isu rasisme di Amerika begitu hangat. Menurutnya, “peperangan” rasisme yang sesungguhnya tidak terjadi di dunia luar melainkan di sekolah. Dengan penuh harapan dan semangat, Erin mengajar bahasa Inggris di kelas 203 (lebih dikenal sebagai Room 203), yang di dalamnya terdapat beragam gank ras yang selalu mengelompok. Dalam film ini ditampilkan ras Kamboja (Cambodia), kulit hitam (The Black People), seorang kulit putih (The White People), dan sebagainya.
Pada awal kedatangan Erin (The White people), para murid sama sekali tidak tertarik dengan kehadirannya dan menganggap Erin tidak tahu tentang kehidupan yangs sesungguhnya. Bagi mereka (murid kelas 203), kehidupan adalah bagaimana caranya mereka selamat dari kekerasan seperti penembakan yang mengatasnamakan ras. Setiap murid merasa tidak aman jika berada di luar sekolah bahkan di luar rumah mereka sendiri.
Tidak hanya menghadapi murid dari berbagai ras, Erin juga menghadapi kenyataan bahwa yang “memulai” pengelompokan justru dimulai semenjak mereka duduk di bangku sekolah. Kelas 203 merupakan kelas di mana muridnya didominasi oleh The Black People yang dianggap mempunyai kemampuan jauh di bawah The White People. Pihak sekolah melarang mereka untuk membaca buku-buku yang dibaca oleh murid dari kelas lain karena dianggap tidak mampu “mengkonsumsi” buku-buku tersebut. Erin menyadari bahwa ada batas yang tidak terlihat (invisible border) di antara murid-muridnya.
Kemudian Erin menemukan cara untuk “merangkul“ kehidupan muridnya dengan memberikan mereka buku harian (jurnal) yang harus diisi setiap hari. Di buku itu mereka bebas menuliskan apa saja dan jika mereka memperbolehkan Erin membaca, buku tersebut harus diletakkan di lemari kelas. Awalnya Erin ragu cara ini akan berhasil ternyata semua murid menyanggupinya. Dari sinilah Erin mengetahui bahwa kehidupan mereka memang keras dan semakin bersemangat untuk merubah kehidupan muridnya. Erin rela bekerja paruh waktu (part time) di beberapa tempat demi mengumpulkan uang untuk membeli buku yang dianggap tidak sanggup dibaca oleh mereka, yaitu buku harian Anne Frank (The Diary of Anne Frank) -seorang Yahudi korban Holocaust-.
Tidak hanya itu, Erin juga mengundang korban-korban Holocaust lainnya untuk makan malam bersama muridnya. Kemudian seorang sahabat yang pernah menyelamatkan Anne Frank dari kejaran Nazi -Miep Gies- juga diundang dari Switzerland ke Long Beach dengan usaha penggalangan dana. Usaha-usaha ini rupanya semakin mengakrabkan Erin dan muridnya. Usaha-usaha Erin lambat laun menyadarkan murid-muridnya bahwa kekerasan terhadap sesama merupakan suatu hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Murid-murid yang pada awalnya saling membenci karena berbeda ras, akhirnya menjadi berteman dan menghancurkan invisible border yang selama ini mengurung mereka. Beberapa dari mereka membuang senjata api yang selama ini dijadikan alat perlindungan diri dan meninggalkan kehidupan gank jalanan.
ANALISIS
Dalam film ini ada beberapa hal yang bisa diangkat yaiut permasalah rasisme dan gank, diskriminasi yang terjadi di dalam dunia pendidikan, ruang kelas yang “menjelma” menjadi rumah hingga pentingnya peranan keluarga.
1. Racist dan Gank
Film The Freedoms Writers ini menampilkan isu ras. Masing-masing ras saling berlomba untuk mendapatkan pengakuan dengan cara bergabung dengan gank dari ras yang sama dan senasib. Pada awal film, ditampilkan bahwa untuk menjadi anggota suatu gank maka ia harus diajarkan kekerasan dengan cara dipukuli beramai-ramai. Tidak hanya di luar sekolah, di dalam sekolah pun sangat terlihat jelas ada batas-batas imajiner yang mengkotak-kotakkan mereka ke dalam area aman “sesama”. Tidak ada seorang pun yang berani melanggar batas-batas tersebut.
Dari salah satu permasalahan yang dihadapi oleh murid-murid Erin, saya mengangkat kisah Eva. Pola pikir Eva mengalami pergeseran, darah Hispanic memang mengalir deras dalam diri Eva. Akan tetapi pada akhirnya Eva memilih untuk berpihak pada kejujuran daripada memberikan kesaksian palsu demi melindungi kelompoknya (ras Hispanic).
2. Diskriminasi Dunia Pendidikan
Ketika Erin kali pertama melihat situasi sekolah, yang dilihatnya adalah adanya perbedaan antara kelas unggulan (didominasi oleh kulit putih, dan hanya ada satu kulit hitam). Pemisahan kelas yang dilakukan oleh sekolah didasarkan atas pemikiran dan stereotip bahwa pada umumnya The Black People , Hispanic, Kamboja, serta ras di luar kulit putih tidak mendapatkan nilai akademis yang tinggi. Menurut Erin, malah hal ini yang menyebabkan mereka tidak bisa bersaing secara sehat dengan The White People dalam bidang akademis.
Akan tetapi yang membuat saya terkejut adalah bahwa kepala sekolah di SMU tersebut adalah The Black People. Hal ini menandakan bahwa ia mendapat kedudukan tersebut karena pandai. Namun, ternyata kepala sekolah tersebut juga tidak mampu berbuat banyak untuk membantu Erin karena berada dalam “bayang-bayang“ anak buahnya yang termasuk dalam ras kulit putih. Satu hal yang juga membuat kecewa adalah perlakuan para guru yang sangat merendahkan murid-murid “terbelakang” di kelas 203. Kebetulan atau tidak, guru-guru tersebut dari golongan ras kulit putih. Seorang pendidik yang seharusnya mengapus batas-batas rasisme malah ikut menyuburkan rasisme. Sungguh ironis.
3. Ruang 203 – Sebuah Keluarga
Dari film ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar keluarga non-kulit putih (terutama yang berasal dari kalangan ekonomi bawah) adalah keluarga yang tidak harmonis. Tetapi murid-murid Erin merasa bahwa ruang kelas mereka adalah rumah nyata di mana mereka bisa saling melengkapi dan menghargai satu sama lain. Mereka sudah menganggap bahwa mereka adalah keluarga walaupun berasal dari ras yang berbeda-beda.
Walaupun Erin kehilangan keluarganya (hubungan antara suami dan istri) tetapi ia menciptakan sebuah keluarga baru. Dalam film ini juga tersirat bahwa istri yang terlalu sibuk bekerja melebihi suaminya dianggap sebagai suatu “pelanggaran“. Karena suaminya merasa derajatnya lebih rendah dibanding dengan istrinya.
KOMENTAR
Rasisme di Amerika Serikat memang telah menjadi sesuatu yang inherent (melekat). Setelah tiga puluh tahunan Civil Right Act dikeluarkan, ketegangan rasisme cenderung meningkat dan mencapai titik yang tinggi di kota-kota seperti New York, Boston, dan Chicago. Rasisme telah menciptakan kemiskinan dan menimbulkan masalah-masalah sosial, menjadikan The Black People itu adalah underclasses atau masyarakat kelas bawah.
Sejarah awal rasisme -sebagaimana dilacak M Fredrickson- setidaknya bisa ditelusuri dari Spanyol. Pada abad 12 sampai 13, pengikut Islam, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan. Tetapi di akhir abab 14 dan awal 15, timbulnya konflik dengan orang Moor lalu memercikkan diskriminasi terhadap Islam dan Yahudi. Di sini tampak kebencian yang bersifat sektarian lalu menjadi kebencian yang bersifat rasial dalam bentuk pengusiran. Setelah Spanyol dibersihkan dari orang-orang Yahudi dan Moor, kemudian mulai menjajah “dunia baru“ (Amerika) dan menemukan jenis perbedaan baru yaitu orang-orang primitif dan kurang beradab.
Orang Amerika merasialkan orang lain dan menganggap dirinya paling manusiawi. Puncak supremasi kulit putih itu lalu mencapai perkembangan ideologis yang paling lengkap terjadi di Amerika Serikat bagian Selatan antara tahun 1890 hingga 1950-an. Sementara itu, orang Jerman melengkapi dirinya sendiri dengan identitas rasial sehingga merasa perlu untuk menyingkirkan orang lain dari identitas ras unggul Kaukasia (bangsa Arya) yang memuncak pada tahun 1933 dan 1945.
Tata pikir spesifik posmo adalah : kontradiksi, kontroversi, paradoks, dan dilematis. Posmo lebih melihat realitas sebagai problematis, sebagai yang selalu perlu di-inquired, yang selalu perlu di-discovered, sebagai yang kontroversial. Bukannya harus tampil ragu, melainkan harus memaknai dan selanjutnya in action. Maka apa yang dilakukan oleh
Pemikir postmodern cenderung menggembor-gemborkan fenomena besar pramodern seperti emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mistik. Teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan kehidupan, fiksi, teori, image dan realitas. Serta postmodern menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan bernalar.
Dalam hal ini, apa yang dilakukan oleh pihak akademisi di sekolah tempat Erin mengajar adalah pemikiran-pemikiran yang ditolak oleh pemikir posmodern. Bagi akademisi tersebut, mengajar adalah sekedar mengajar, tidak perlu memikirkan hubungan pribadi antara guru dan murid. Padalah Erin menalarkan bahwa seorang guru harus memahami kondisi muridnya sebagai pendukung untuk mengajar. Bagi akademisi (guru-guru) lainnya, metode mengajar yang dilakukan Erin adalah metode yang instan dan tidak dapat dipraktekkan secara terus-menerus. Erin menyadari hal itu tetapi ia tetap berusaha untuk selalu memahami muridnya. Ia berhasil merobohkan pemikiran-pemikiran (nalar-nalar) bahwa murid yang termajinalkan tidak akan berubah nasib. Bahwa mereka sudah ditakdirkan untuk selalu emnjadi yang “tertindas“.
Terlepas dari sejarah dan pembahasan mengenai ras dan rasisme, salah satu kisah yang saya soroti tentang tokoh Eva pada film ini adalah mengenai tubuh dan kekuasaan. Pada akhirnya Eva menyadari bahwa dia punya wewenang atas tubuh dan pemikirannya sendiri. Dia tidak lagi menuruti kemauan kelompoknya sebagaimana yang ia lakukan selama ini. Dengan banyaknya pengetahuan yang diberikan gurunya (Erin) tentang kekerasan yang terjadi di banyak tempat, Eva akhirnya menyadari bahwa rasisme adalah sesuatu yang tidak baik. Eva dan teman-teman yang selama ini merasa menjadi kelompok yang termajinalkan di sekolah (karena diletakkan di ruang 203) merasa diri mereka sejajar dengan yang lain karena mereka ternyata bisa membaca buku-buku yang hanya dibaca oleh orang kulit putih.
Untuk menciptakan masyarakat yang saling menghargai satu sama lain, masyarakat Amerika perlu membangun kesadaran baru tentang rasisme. Erin dalam Freedom Writers berhasil menunjukan bahwa sesungguhnya perbedaan ras bukan halangan bagi seseorang untuk sukses. Mereka yang merasa dimarjinalkan hanyalah suatu bentuk ketakutan (ketidakberdayaan) atas kelompok yang lain. Perlu disadari bahwa seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, rasisme bukanlah sesuatu yang relevan karena yang dibutuhkan untuk membangun suatu bangsa adalah intelektual, bukan warna kulit atau latar belakang ras.
Selain masalah rasisme, kekuasaan juga bukan terletak pada warna kulit melainkan pada intelektual (dalam kasus film ini, di mana pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka sederajat dengan kaum kulit putih). Seperti yang dikatakan Foucault, maka murid-murid Erin akhirnya sadar bahwa kekuasaan ada pada mereka sendiri, bahwa dengan memiliki pengetahuan mereka memiliki kekuasaan atas diri (tubuh) mereka sendiri.
Beberapa Sumber :
Best, Steven dan Dauglas Kellner. 2003. Teori Postmodern : Interogasi Kritis. Malang: Boyan Publishing.
Donald, James. 1992. “Race, Culture and Difference“. Thousand Oaks-California : Sage Publications Ltd.
www.freedomwritersfoundation.org
id.wikipedia.org/wiki/Holocaust
http://azzkee.multiply.com/reviews/item/15
Haduh haduh ada satu blog yang aku lupa punya siapa (maaf maaf, thanks dah menginspirasi tata cara penulisan habisnya butek make yang kaku kaku maunya yang ilmiah populer hehehe)
TERNYATA TUGAS UAS TEORI POSTMODERN ASYIK HAHAHA GA KAYA' EPISTEMOLOGI!!!
Sunday, January 4, 2009
Jijaaay bajaaay!!!
Aku kepegang inguuus, di ban motooor, bagaimana bisaaa? Aaaaaargh streees, sapa yang punya ingus [atau dahak, dunno, yang jelas sticky banget!!!] Siaaaaaaaaaaaaaaaaal!!!

Aku ngidam roti bakar pukul 4 sore tadi, dan kepikiran buat ke tempat Fiit [jelek], niatnya sekalian beli lotek, roti bakar coklat [oishiiiii], mbalikin VCD ke Wahana, dan beli rujak es krim... Niat tinggal niat... Yang ada aku cuma bertandang ke tempat Fiit [jelek] dan langsung cabut ke Wahana... Dalam perjalanan ke Wahana, aku udah ngerasa ada yang ga beres dengan salah satu ban motorku... Entah depan entah belakang tapi keknya yang belakang... Sesudah bertandang, aku nganter Fiit [jelek] ke rumah makan Padang di daerah Ishiro... Trus aku cabut ke Wahana [duh kalimatku njelimet, habis masih esmosiii]...
Masih di depan Wahana [setelah mbalikin VCD], aku benar benar yakin kalo banku gembos!!! Padahal tadi [sebelum ke Wahana, tuh kan kalimatku njelimet] aku udah mompa yang belakang... Tapi ternyata yang bocor adalah yang depan!!! Bagaimana bisa??? Tidak pernah terjadi dalam hidupku... Dengan rekor menambal ban lebih dari 6 kali lebih [mungkin], selalu ban belakang yang bermasalah huhuhu...

Akhirnya aku menambal di depan Circle K... Sembari menunggu, aku nonton Camp Rock yang baru aku sewa tadi [hihihi, hari gini masih berani nonton VCD? Tugas??? Lewaaat!!!]...
Oh ya jadi lupa gimana kronologis aku bisa kepegang ama itu ingus!!!
- Aku duduk menunggu mas yang akan menambal banku, soalnya dia lagi beli maem gitu deh [ngerti maksudku?].
- Aku nonton Camp Rock.
- Iseng iseng ngeliat ke arah ban motor.
- Aku berdiri, ngecek ban belakang.
- Tendang tendang, tindih tindih, ga apa apa tuh.
- Pegang-pegang... Ih ada yang sticky sticky gitu deh...
- Untung aga aku cium tapi lengket berlendir daaan aku sadar itu inguuuuuus!!!
- Sambil memaki-maki [aku lupa jenis makiannya] aku berjalan ke depan.
- Dueeeeeeeer ban motor yang depan mliak mliuk... Gembooos!!!
- Kok bisaaaaaaaaa???

Saturday, January 3, 2009
Vincent!!!
Wednesday, December 31, 2008
Taon Baru?? Lewaaat!
Tapi aku kecewa, ga ada itu buku diari TFW! Hahaha... Mungkin harus beli via Amazon... Tapi aku ngidam buku laen :
Robert-Zacow, Francois. 2008. Orang Bajo, Suku Pengembara Laut : Pengalaman Seorang Antropolog. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.
Rp. 60.000,-

Dick-Read, Robert. 2005. Penjelajah Bahari. Bandung. Mizan Pustaka.
Rp. 64.500,-

Lapian, Adrian B. 2008. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke 16 dan 17. Depok. Komunitas Bambu
Rp. 40.000,-

Next time, save the money 1st aaah... Huahaha [miriiis]... Oke! Tebak aku lagi ada di mana? UPT sodara sodara!

Ngapain??? Cari buku eyang Koento Wibisono yang konon kabarnya udah diburu para calon antropolog yang ngikut kelas Epistemologi... Nihil... Ampe bapak di UPT mbantu mbantu nyari gitu dan ternyata ada satu buku hilang, satu buku lagi dipinjem baruuu aja kemaren...

Bangke! Padahal kemaren aku ke sini ama Nunu memperpanjang buku tapi ga napsu buat berburu itu buku huhuhu, nyeseeel!!!
Di luar rame banget, katanya sih ada taon baru malem ini, barusan adek QQ sms mesenin kalo aku mau pergi, jangan bawa bawa setrikaan dan alasnya [read : kamarku jangan dikunci]... Ternyata dia mau malem taon baruan kali ye... Joey ngundang ke tempat Abhi, bakar bakar jagung tapi better to stay in my room... Banyak yang nanya mau ke mana malem ini... The answer is just the same : ga ke mana mana... Kan taon barunya udah lewat berapa hari yang lalu, the new slide has been changed, the black slide [paper] on my wall... Hehehe, ga pasang target apa apa sih [pas 1 Muharram kemaren], cuma apa yang harus dilakuin sampe tiba waktunya aku berangkat penelitian [cuih] ke Petung...
P.S : my left hand is shaking!!!
Sunday, December 28, 2008
7 things i hate 'bout ME!!!
- Aku ikut seneng, terharu, bahagia, senang, happy, ngedumel, marah [tapi ke akunya], sampe merian[g]-rian[g]... Aku ada di mana? Hellooow!!!
- Aku ikut seneng, terharu, bahagia, senang, happy, ngedumel, marah [tapi ke akunya], sampe merian[g]-rian[g]... Kapan lulus???
- Aku ikut seneng, terharu, bahagia, senang, happy, ngedumel, marah [tapi ke akunya], sampe merian[g]-rian[g]... Setelah lulus mau jadi apa????
- Aku ikut seneng, terharu, bahagia, senang, happy, ngedumel, marah [tapi ke akunya], sampe merian[g]-rian[g]... Lho umurku berapa sih? Baru 22 kok hihihi [ketawa meringis]
- Aku ikut seneng, terharu, bahagia, senang, happy, ngedumel, marah [tapi ke akunya], sampe merian[g]-rian[g]... Dah gede belom siiih??? Ih apaan sih!!!
- Aku ikut seneng, terharu, bahagia, senang, happy, ngedumel, marah [tapi ke akunya], sampe merian[g]-rian[g]... Udah pada selesai belon tugas2nya??? Yah diingetin, ni juga lagi dibajak eh digarap!!! Oh noooooooo!!!
- Aku ikut seneng, terharu, bahagia, senang, happy, ngedumel, marah [tapi ke akunya], sampe merian[g]-rian[g]... Kapan nikah??? Ini bener2 such a very very stupid quest!!! Ever!!!
My dear little sista...

Biodata :
Palembang, 20 Juli 1996
170 cm
[canda, pokoknya hampir sama sama aku, mungkin tinggian dia]
Ketiga dari 3 bersaudara
[bontooot hehehe]
SLTP PUSRI Palembang
[huwaaa congrats ya dek...]
Prestasi paling membanggakan taon ini :1st rank booo' hip hip hurraaaaaaay!!!
Paling suka nasi goreng dan Avril!
Pendiem dan lebih dewasa dari aku
[aku serius, mana pernah aku bertanya pada ibu : bu, tugas selanjutnya apa? hahaha ketawa miris]
Ketika membantu pekerjaan rumah hiks...
Ayuk tau, dedek kangen ayuk kan?
Samooo hahaha [ngakak miris]
Ayuk just can pray 4 u... Gomen ayuk dak ado di rumah... Let's fight together let's dance together party wont start if u stand still like dat... Lhooo!!! Dedek seneng Avril kan? Nasi goreng jugo kan? Neh ayuk kasih dengan penuh cinta hahaha :


With love,
yuk yame, yuk iyan...
Monday, December 22, 2008
Paris VS France




Jogja juga punya Paris... Tempat romantis tapi sayang saya tak pernah beromantis-romantisan [dengan pria.Ri] hahaha... Ga penting! Ke laut aja itu para lelaki [ada yang setubuh? eh, setuju?]
Tempat di mana seorang baleRIAN terkenal sering [ga juga sih, lebih suka Depok Bitch] berlatih balet...

Atau pengagum Kung Fu Panda...
Jet Li...
Binaragawan...
Perenang ombak yang udah go internasional...
Bahkan Tazmania!!!
Romantisme Paris ga kalah hebat dengan France... Semua kumpul... Jadi satu... Deburan ombak... Matahari... Pasir... Pantai... Seks... Ups!!!
Sunday, December 21, 2008
9
-mbak gajah wati lagi mikir, untung semalem mandi jadi ga mandi pagi ga masalah!!!_
Monday, December 15, 2008
siaaaaaaal!
Ada apa denganku hari ini?
Yang salah attach lah,
yang salah kirim lah,
yang salah tugas lah,
yang salah apa lagi ya???
Ugh!
Tapi gpp, berikut kuberikan poto2 si Pussy,
penghuni mushola FIB... [kalungnya tuh gelang kakiku hahaha]...
Thursday, December 11, 2008
Rumahsakit - Homesick


Kuambil sepotong "bukti" perjalanan ku pulang...
Cekreeek...!



Aku sudah rindu! Pada adek, yang sukaaa sekali,
jika aku pulang...
Jalan-jalan, ke toko buku, makan bakso, kelilinglah...
Itu yang selalu kami lakukan, juga berbagi kisah kasih...

Juga pada yang terkasih... Aku ingin pulang... Homesick...
someone who needs somewhere
to long for
homesick
cause I no longer know
what home is... [KoC]
pagi ini,
kudapati MPE ku bernilai 6,5...
Apa yang aku cari di sini?
Aku ingin pulang...
Ah, CENGENG!!!
Biar!
Tuesday, December 9, 2008
Penggal penggal : Antara Aku, Tulisanku dan Dunia
Kulemparkan lagi pandanganku. Lebih liar kini. Menyapu seluruh ruangan. Tanpa terkecuali. Kanan, tengah, kiri, atas, bawah, acak, berulang. Semua hampir tidak pada tempatnya. Apa itu? Mataku terhenti di tengah-tengah. Plastik dengan gambar...entahlah. Aku tidak yakin itu gambar. Itu hanya sesuatu...entahlah. Aku tak bisa mendeskripsikannya. Hanya warna. Pink. Warna kesukaan para wanita. Tidak bagi aku! Aku alergi! Tak sadar, bibirku mengeja cepat. “En i ni ce e”. N-I-C-E. NICE! Ah, plastik bekas tisu toilet. Kurobek liar tadi malam. Menghapus tiap bulir air mata yang turun. Tisu bertebaran. Bergumpal-gumpal. Plastik itu tergeletak begitu saja. Setengah tertindih jaket merah darah. Dekat lipatan mukenah. Lipatan? Cheese! Kalau layak disebut lipatan. Aku lebih suka menyebutnya...gumpalan! Hahaha, aku pintar!
Aw, pundakku sakit. Pundakku menggeliat di dinding dingin. Kuputar leherku, kiri, kanan. Hmmm, mataku terpaku. Camelia dalam botol. Warna putihnya tersamarkan. Warna lampu berpijar kekuningan menerpa. Membuat warnanya semakin eksotis! Aku ingat, dulu kusimpan camelia. Di kamarku. Dulu sekali. Sampai mengering dan tak bisa kubedakan. Apa itu camelia atau edelweis. Hmmm, aku selalu mengaguminya. Aku ingat. Bertanya kepada penjualnya. “Camelia ada artinya ga pak?”. Si penjual menggeleng. Tak penting bagiku. Suka ya suka. Tak ada alasan. Terkadang sesuatu itu tak butuh alasan. Hihihi, aku merasa senang. Kubuat setiap yang melihat camelia dalam botol itu menerka. “Dari X ya?”. “Dari X ya?”. “Dari X ya?”. Sial, mana punya aku X! Yeah, setidaknya mereka tertipu. Hahaha. Aw! Pundakku sakit... Tercium aroma jeruk. Pewangi yang kugantungkan di jendela. Dibawa angin dari sela-sela. Jendela tak kututup rapat. Sengaja. Hmmm, wangi... Aku suka aroma jeruk!

Kubenarkan posisi sandaranku. Kutekankan kedua telapak tanganku ke kasur. Tekan, setengah angkat, kutarik pantatku mendekat. Lebih dekat ke dinding. Kugaruk kepalaku. Kapan terakhir kali aku keramas? Tadi pagi kok. Tapi kok terasa gatal ya? Hoaaam. Aku menguap. Ingin tidur. Sangat. Tapi tak bisa. Mataku sebesar-besar bola pingpong. Lho, apa ini? Ada yang berlari menuruni pipiku. Pandanganku mengabur. Ssssssrt, kuhisap cepat. Cairan yang hendak keluar dari hidungku. Lagu daerahku mengalun di MP3.
“Diruuut, Diruuuut jangan nangis. Bapak nak begawe... Dirut jangan nangis...”
Tiba-tiba pikiranku melayang. Terbayang saat aku kecil, dulu. Kupejamkan mataku... Angin malam berhembus, dingin. Aku duduk berdampingan. Dengan adik laki-lakiku. Di teras depan rumah. Entah pukul berapa waktu itu. Yang jelas, bintang bertebaran, banyak sekali... Entah apa ada suara serangga malam waktu itu. Aku tak ingat. Yang jelas, aku melingkarkan lengan kiri ke bahu kirinya. Kami terdiam. Entah apa yang ada di pikiran kami waktu itu. “Yuk, masih lamo ye ibu balek ?”. “Dak tau dek, mungkin ”. “Maen tebak-tebakan yuk. Kiro-kiro bis mano yang mbawa ibu balek”. Dia mengangguk, tersenyum tipis. Brrrrrm. Aku tak tahu bagaimana. Kuanggap saja seperti itu bunyi bisnya. “Itu!”, jeritnya seraya sontak berdiri dan setengah berlari. Menghampiri pagar.
Aku ikut berlari, tiba-tiba berhenti. Ternyata bukan. Bis itu tidak berhenti di depan rumah kami. Adikku menapakkan kakinya. Menjajal besi demi besi. Sebesar lengan orang dewasa. Berwarna mengkilap. Stainles steel. Kata orang. Lalu kami duduk tertunduk di atasnya. Terasa dingin. Karena kabut malam, mungkin. Kami menghadap ke jalan raya. Aku menjajarinya, kembali merangkulnya. Brrr, dingin. “Dek, galak putu dak? Apo nak mi tek tek? ”. “Mano be, terserah”, jawabnya. Tling tling tling, dia mengetuk-ngetukkan kukunya ke pagar. Kakinya berayun-ayun. Malam seperti ini. Yang ada hanya kue putu atau mi tek tek. Bunyinya tek tek tek. Memukul-mukul wajan. Dengan sutil. Jadi disebut mi tek tek. “Tunggu sini ye, ayuk mbek duit dulu ”. Aku turun, berlari cepat. Masuk ke pintu depan. Belok kanan. Lurus. Belok kanan. Kurogoh kantong seragam SD ku. Nihil. Ku geledah tas punggung yang tergantung di belakang pintu. Kubuka semua retsletingnya. Kuhamburkan semua isinya. Nihil. Aku berlari ke luar kamar. Belok kiri. Lurus. Belok kanan. Aku berhenti. Kutatap pintu besar bercat putih. Kuletakkan tangan ke gagang pintunya. Kugenggam, setengah kutekan. Kuurungkan niatku. Ini kamar ibu, aku tak berani.
“Dek, ayuk katek duet . Gek ngutang be yo . Mang Juki kan tau dengan kito”. Ia menggeleng. “Terserah”. Brrr, dingin. Brrrrrm brrrrrm brrrrrm. Dia mendongak, tersenyum, badannya tegap. Aku harap-harap cemas. Bis itu berhenti! Tepat di depan kami! Brrrrrm brrrrrm brrrrrm. Bis itu pergi lagi. Mengepulkan asap hitam dalam pekatnya malam. Membumbung tinggi, lalu hilang. Tertiup angin malam, dingin... Sesosok tinggi bertopi membelakangi kami. Berjalan pelan. Memasukkan tangannya ke dalam jaket. Berjalan ke dalam lorong.. Lalu menghilang. Ditelan gelap malam. Uh, bukan yang kami tunggu! “Yuk, mang Juki jualan dak ye malem ni?”. “Pastilah, tunggu be ye”. Lima. Tujuh. Sepuluh. Lima belas menit. Tak ada bis ibu. Tak ada mang Juki. Anjing melolong panjang. Hitam, si hitam. Milik si Batak. Dua hari kemudian mati. Diracun, mungkin. Banyak yang tak suka dengan anjingnya. Suka mengejar, liar. Aku pernah, dikejar! Aku menangis, menjerit, minta tolong. Dia tidak betul-betul mengejar. Hanya menggertak. Mungkin dia suka. Melihatku lari terbirit-birit. Sembunyi di sela-sela pohon ketela. Di kebun pak Madi’. Aku benci lewat belakang rumah! Sialan!

Kutatap lagi langit. Bintang...banyak sekali. Kiki memutar badannya 180 derajat. Melompat turun, tak menoleh ke jalan raya. Ditendangnya bakal buah kelapa seukuran kenari. Gugur sebelum jadi kelapa. Di rumahku banyak pepohonan. Ibu dan bapak suka bertanam. Angin bertiup. Lumayan kencang. Mengusik dahan-dahan kelapa. Ssssrk sssssrk ssssssssrk. Dahan kelapa berbisik, “Lihat itu, mereka menunggu ibu pulang, hihihi...”. Aku mengikuti Kiki. Menjajari langkahnya. Tak kugubris ejekan dahan kelapa. Apa peduliku?!. Kutepuk nyamuk. Nakal, menghisap darah di jidatku. Plaaak! Mati dia! Hening... Tiba-tiba kami berhenti. Serentak. Saling menatap lalu tersenyum. Bak tentara, kami memutar badan serentak. Tanpa aba-aba. Berlari-lari menghampiri pagar, memanjat, lalu melompat turun. Pandangan kami menyapu semua arah. Belum, belum nampak. Tapi suaranya terdengar dari kejauhan. Tuuuut tuuuuut tuuuuuuut. Lambat laun terlihat. Bakul persegi dari kayu berayun. Naik turun. Naik turun. Mang Juki memanggul bambu. Warnanya hitam, dipenuhi jamur mungkin. Wajahnya tak terlihat. Tertimpa cahaya sentir kekuning-kuningan.
Seperti biasa. Mang Juki memakai topi hitam. Di lehernya melingkar handuk salon. Kami menunggu. “Ki! Yan! Nak beli? Lagi nunggu ibu yo?”. “Iyo mang, tapi boleh ngutang dak? Ayuk dak katek duet. Kiki jugo dak ado mang... Bik Iyah dah bobok. Tapi pasti besok dibayar ibu”, celoteh Kiki cepat. Mang Juki tersenyum simpul. Diusapnya kepala Kiki. Diturunkannya bakul persegi itu ke atas tanah. Dilepaskannya bambu dari tali penggantung bakul. Tuuuut tuuuuut tuuuuuuut. “Nak berapo Ki?”, tanyanya sembari sibuk. Menyodok-nyodok potongan bambu kecil. Mengisinya dengan bahan. Tepung dan gula aren. Kiki menatapku, meminta persetujuan. Aku hanya senyum. “Sepuluh! Tar kami bagi duo”. “Siap bos! Bapak begawe malem?”.
Mang Juki membuka penyumbat lubang kecil beruap. Diletakkannya ruas demi ruas bambu isi bahan. Tak satupun kami menjawab. Kuanggap mang Juki melihat. Tak ada mobil di garasi. Berarti bapak pergi. Kerja malam. Membuat pupuk, kata orang-orang. Kami terpukau, selalu. Cekatan sekali! Hanya suara sibuk mang Juki. Terdengar dalam heningnya malam. Brrrr, dingin... Kelelawar melesat turun. Meninggalkan istananya. Dahan kelapa depan rumah. Kalau siang mereka seperti buliran air hitam raksasa. Tapi tak pernah menetes. Menggelantung. Terkadang bergoyang-goyang. Tertiup angin. Kami suka, melemparinya. Dengan kerikil. Hihihi...
Aku duduk lagi di atas pagar. Kiki sibuk bercerita dengan mang Juki. Brrr, dingin... Tiba-tiba dari sebelah kiri ada bis melaju. Brrrrrm brrrrrm brrrrrm. Aku sigap. Adikku tidak menyadari rupanya. Hingga bis berhenti tepat di depan kami. Kiki menoleh, celingukan. Sesosok wanita menjinjing tas dan buku. Menghadap kami, tersenyum. Kiki menjerit, “Buuuuu!”. Bulir-bulir hangat turun perlahan di pipiku. Pandanganku mengabur. Aku menghambur berlari. Mendekap erat tubuh Kiki yang menempel di tubuh ibu. Wangi ibu, aku selalu suka. Entahlah, wangi apa itu. Wangi sibuk. Wangi keringat. Wangi ketiak. Dari pagi hingga malam, sibuk. Ibuku guru, kalau sore kuliah. Sampai malam, sibuk... Hmmm, aku hebat. Bisa kembali ke masa lalu. Tak kusadari, badanku tak lagi menyender. Laptop di atas kasur, badanku berbaring. Sejak kapan posisiku berubah?Kuletakkan kembali laptop. Di atas meja lipat kecil, gambar One Piece. Aku suka kartun itu. Bajak laut, bertualang. Bebas, lepas... “Aku juga mau”, batinku. Membayangkan laut, biru, luas, lepas. Realitanya, aku di sini. Kubus 27 meter kubik. Dua jendela, satu pintu. Warna oranye mendominasi. Aku suka jeruk. Aku suka oranye. Aku menarik napas panjang. Menggaruk-garuk jidat. Memukul-mukul pelan. Memaksa berpikir. Tema, tema, tema... Besok deadline lomba. Belum juga aku dapat tema. “Antara aku, tulisanku dan dunia”. “Antara aku, tulisanku dan dunia”. “Antara aku, tulisanku dan dunia”. Berulang-ulang kubisik pelan temanya. “Siapa aku? Apa tulisanku? Ada apa dengan aku? Duniaku di mana? Aku penulis???”. Yeah, mungkin. Setidaknya, menulis laporan. Tiap hari, tiap minggu, tiap saat. Hampir botak rasanya. Bersaing dengan Prof. Y. Beliau mirip dengan...yap! Gubernur Gotham. Di film Batman. Seperti pinguin botak!

Kuulang lagi. Pertanyaan demi pertanyaan. “Siapa aku? Apa tulisanku? Ada apa dengan aku? Duniaku di mana? Aku penulis???”. Aku mahasiswa. Tulisanku tak banyak. Lebih suka ngeblog. Kadang terpaksa menulis laporan. Makalah-makalah. Essay-essay. Tidak ada yang salah denganku. Hanya saja...aku terkurung. Dalam kubus 27 meter kubik. Dua jendela, satu pintu. Keluar hanya pagi hingga malam. Sebelum larut. Pukul 21.00 harus ada di kamar. Di rumah. Tiga bulan lalu, divonis. Bronchitis. Artinya, tidak ada lagi. Kelayapan dimalam hari. Hihihi, kenapa? Kau mengharapkan yang lebih? Lebih menakutkan? Lebih dramatis? Kanker misalnya? Atau...AIDS? Hahaha tidak tidak tidak. Ini bukan cerpen dramatis. Yang berakhir kematian. Aku bosan. Terlalu klasik. Ah, terbayang kelelawar itu. Yang melesat turun. Dari istananya, dahan kelapa. Depan rumahku, di Palembang. Kenapa dia tidak mengidap Bronchitis? Uh, sebaaal! Kelelawar sial! Rintik hujan berirama. Di luar jendela. Brrr, dingin...
Ya ya ya! Aku tahu! Pak Wisnu pernah. Bilang padaku. Begini katanya, “Kau tidak bisa memaksa. Orang punya hak pakai plastik. Kau tidak berhak. Melarang. Jangan”. Rohku melayang. Kembali ke beberapa minggu lalu. Aku dan Lala. Ke Minomartani. Ke sanggar sampah. Tempat mengelola dan belajar. Tentang sampah. “Kau tidak bisa memaksa. Orang punya hak pakai plastik. Kau tidak berhak. Melarang. Jangan”. Beliau salah paham. Dikiranya aku aktivis lingkungan. Bukan, aku bukan. Dikiranya aku berkampanye. Berteriak di pinggir jalan. “Jangan pakai plastik! Jangan pakai plastik!”. Tentu tidak. Gila aku! Hahaha. Aku hanya menulis, sebagai bahan. Tugas Sekolah Menulis. Essay ilmiah tentang sampah. Aku menulis, bahwa aku mengurangi. Mengurangi pemakaian plastik. Dikira pak Wisnu aku melarang orang. Tentu tidak. Aku bilang, “Kalo cuma saya, yang mengurangi. Tidak berarti apa-apa. Tapi saya juga tidak boleh melarang. Melarang orang memakai plastik. Trus gimana dong Pak? ”. Beliau terdiam sejenak. Berjalan berdampingan dengan Lala. “Saya cuma nulis. Dalam esay buat tugas. Tentang pengalaman saya. Mengurangi sampah plastik”, tambahku. Mata beliau terbelalak, “Oh ya kalo gitu bagus. Nulis biar orang tahu”. Huuufh, aku melepas napas. Lega. Itu yang aku maksud.
Apa? Kamu bertanya apa intinya? Kamu tidak menangkap? Tulisan. Orang tahu. Itu yang aku butuhkan. Aku, Tulisanku dan Dunia. Tema lomba tulisannya. Aku yang menulis. Tulisan kosong ini. Aku melempar-lempar kamu. Ke kamarku. Ke kampung halamanku. Ke Minomartani. Tidakkah kau merasa? Itulah kekuatan tulisan. Membawamu, ke manapun. Si penulis membawamu. Sesukanya. Menceburkanmu dalam pekat malam. Menggiringmu, serasa terengah-engah. Ketika adegan dikejar anjing. Membagi pengalaman, yang tak kau alami. Tapi kau tahu. Yeah, lewat tulisan. Penggalan kata-kata pendek. Entah kata. Entah kalimat. Entah huruf. Entah apapun itu. Padahal aku masih di sini. Begitu pula kau. Masih dalam posisi sama. Tapi si penulis memang penyihir! Dia melontarkanmu. Ke sana, ke sini. Sesukanya! Sial! Aku penulisnya tah? Hihihi...
Stop! Aku melihatnya, tulisan. Huruf G dan P kapital. Dicetak besar, dan tebal. Di selembar kertas. Tertempel di dinding warna oranye. Di atas meja lipat kecil. Di bawah foto narsis. Aku dalam balutan gaun abu-abu. Aku seperti perempuan di situ. G-P. Singkatan dari Garis Panjang. Kami sebut komunitas GP. Teman-teman anak jalanan. Kami mengajari mereka. Berbagi pengalaman positif. “Melarang” mereka ngelem. Selagi menggambar, dan bermain. Bersama kami, aku, Nunu, dan Fiit. Di perempatan Tugu. Malam hari, tentu saja, sebelum pukul 21. Mereka suka memotret. Pakai kamera digital Nunu. Mereka tidak ngelem, atau merokok. Ketika bersama kami. Mereka sibuk jeprat-jepret. Sibuk corat-coret. Lupa ngelem. Lupa ngerokok. Memperlambat kematian mereka. Ah, sedang apa mereka? Di luar hujan. Dingin. Apa mereka tidur? Mereka kedinginan tak? Bulir-bulir itu menuruni pipiku. Lagi. Terasa hangat. Tapi lengket...
Kami suka, melihat mereka tertawa. Waktu itu, 17an. Agustus 2008. Hari kemerdekaan. Kami tanding futsal. Dengan bintang tamu. Alex. Alexander Ell. Germany. Datang ke Jogja. Meneliti bersamaku. Tentang, ah... tak usah kusebutkan. Kami berlari, saling menendang. Saling jagal. Tertawa, lepas. Mandi debu. Di lapangan Muhi. Siang bolong. Telanjang kaki. Panas dan sakit. Kami tak peduli. Tendang teruuus! Timku dan Alex kalah. Tim Komandan menang. Mereka punya komandan. Orangnya hitam manis. Jago sekali pokoknya. Lomba demi lomba. Permainan tradisional. Ala 17an. Makan kerupuk. Pecah air. Lari kelabang. Hingga lomba nangis. Kata Alex kami kejam. Memaksa mereka nangis. Dia tak percaya. Ternyata, tidak ada tangis. Mereka tak bisa. Mereka tertawa. Geli. Hanya Komandan. Seksama, mendalami semedinya. Mencoba menangis. Tapi hanya tetes demi tetes. Dan menang!
Apa? Kau bertanya apa intinya? Aku memberitahu padamu. Dunia mereka kejam. Tapi mereka tidak menangis. Sulit bagi mereka. Tapi mereka suka tertawa. Satu pelajaran bagiku. Aku tidak boleh menangis. Seperti semalam. Mengotori kamar dengan tisu. Berserakan di mana-mana. Menyesali diri. Mengeluhkan tugas. Mengeluhkan kesepian. Aku dikalahkan GP! Mereka tegar, sangat. Padahal dunia mereka kejam, kata orang. Tapi mereka tertawa... Menyembunyikan kesedihan. Aku, tulisanku dan dunia. Dunia bukan hanya milikku. Buka mata... Selamat malam, mari tidur... Besok pasti kubereskan kamarku. Pasti! Hoaaam... Aku menuliskan duniaku, duniamu, dunia mereka. Ke dalam tulisan kosong... Celoteh... Sudah-sudah! Ayo tidur!
Sunday, December 7, 2008
binun
* aku tulisan dan dunia
* menjadi kaya dengan menulis
entahlah, belon sreg aja dengan tema itu...
[pelanggaran! blog ini bukan buwat curhat, yang buwat curhat di sini...]
Promo neh, jual kost2an hehehe... Sini dan sini...
Tuesday, December 2, 2008
Komunitas Vauban, Freiburg
Freiburg, Kota Terhijau di Dunia
Aspek terpenting dari kebijakan budaya di Jerman adalah pengembangan alam yang diatur secara federal. Komitmen rakyat Jerman terhadap lingkungan sangat mempertimbangkan keuntungan dan kerugian atas penerapan model kebijakan tersebut. Masyarakat di Freiburg, sebuah kota di Jerman, dikenal karena kecintaan mereka pada kebiasaan bersepeda dan daur ulang sampah. Namun hijaunya Freiburg bukan tercipta tanpa sejarah yang panjang.
Titik tolak kesadaran lingkungan Freiburg bermula pada 1970, saat Jerman berusaha mengurangi ketergantungan energi mereka pada bahan bakar fosil. Bersama Prancis dan Swiss, Jerman menyusun rencana mendirikan pabrik nuklir di sepanjang aliran Sungai Rheine guna memasok energi nasional. Daerah ini dianggap paling tepat, dengan pertimbangan produksi nuklir akan banyak memerlukan air. Sekalipun limbah nuklir itu sendiri akan mengancam kelestarian Hutan Hitam di Jerman, Hutan Jura di Swiss dan Hutan Vosges di Prancis. Akan tetapi hal ini mendapat perlawanan keras terutama dari masyarakat Freiburg karena Hutan Hitam atau yang lebih dikenal dengan Black Forest terdapat di kota Freiburg. Inilah titik awal pengembangan renewable energy di Freiburg dan Freiburg disebut-sebut sebagai pioneer dalam teknologi solar (solar technology).
Freiburg yang disebut sebagai Eco-Green City atau Green City dianggap sebagai salah satu tempat ternyaman di dunia. Menurut Kamil dalam tesis tentang Konsep Kota Hijau oleh Basri (2008) :
“Green City bukan berarti kota yang banyak hijau. Itu hanya salah satu bagian. Green City adalah kota seimbang secara lingkungan, ekonomi yang sehat, juga kota yang memberikan ruang-ruang buat aktivitas sosial.”
Jadi, bisa dikatakan bahwa Green City adalah kota yang direncanakan sedemikian rupa sehingga menjadi kota yang seimbang dan sehat secara lingkungan, baik alami maupun buatan, ekonomi, serta sosial dengan menata sarana dan prasarana yang nyaman, aman, dan alami sesuai dengan kebutuhan kota.
Sustainable Urban Distric “Vauban” : Sebuah Gaya Hidup dan Kontrol Sosial
Sekitar 4 km ke selatan Freiburg, di daerah bekas barak tentara Perancis sebuah distrik baru sedang dibangun di atas lahan seluas 34 hektar yaitu Vauban. Distrik ini terletak di lembah sungai Rhein dan di kaki bukit Black Forest. Distrik ini akan menampung lebih dari 5.000 warga kota dan menciptakan 600 jenis pekerjaan. Tujuan utama dari proyek ini adalah melaksanakan sebuah kota distrik untuk tujuan kerjasama dalam bidang ekologi, sosial, ekonomi dan budaya. Sebuah contoh yang baik dalam proyek ini adalah rumah-rumah yang dapat menghasilkan energi lebih dari yang dibutuhkan oleh penghuninya. Daerah tetangga yang bebas dari mobil (carfree) dengan 5.000 penduduk dibangun pada akhir tahun 1990-an sebagai "sustainable model district". Tenaga solar digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga di komunitas kecil ini.
Mayoritas penduduk Vauban adalah orang-orang dari kalangan ekonomi menengah dengan anak-anaknya. Distrik ini bermaksud membuat 200 apartemen baru untuk perumahan sosial yang disponsori oleh pemerintah pusat dan program negara. Ini membutuhkan usaha yang besar untuk meningkatkan percampuran kelompok sosial dan umur. Di distrik ini, mobil hanya diperbolehkan di area kediaman untuk keperluan antar jemput. Parkir diperbolehkan maksimum selama 25 menit dan hanya di area-area tertentu. Sepanjang jalan utama, batas kecepatan maksimum adalah 30km/jam dan 5km/jam di sekitar kediaman warga. Batasan kecepatan ini digolongkan sebagai kecepatan berjalan atau walking speed. Konsep ini kembali lagi kepada pembangunan terintegrasi Freiburg yang sangat peduli dengan jarak pejalan kaki dengan pesepeda.
Hanya sebagian kecil dari area Vauban yang dizonakan untuk pekerjaan, walau demikian, toko-toko dan bisnis kecil-kecilan juga dilokasikan di sepanjang Vauban. Toko-toko kecil dan kafe-kafe didstribusikan di sepanjang Vaubanallee, memanfaatkan shelter atau bangunan-bangunan yang panjang. Ada dua jenis supermarket dengan ukuran sedang, salah satunya hanya menjual produk-produk organik. Supermarket ini terletak di persimpangan jalan Merzhauser, dimana hampir seluruh pembeli muncul dengan sepeda atau berjalan kaki. Akan tetapi seorang warga menemukan bahwa ada kecenderungan warga Vauban yang memiliki mobil untuk berbelanja di tempat lain. Penduduk harus menandatangani perjanjian awal apakah mereka akan mempunyai sebuah mobil atau tidak. Para pemilik mobil harus membeli sebuah lahan untuk menyimpan mobil di salah satu tempat penyimpanan bersama.
Masing-masing tempat berharga sekitar 17.500€ (£12.500) ditambah iuran bulanan untuk menutupi biaya rutin. Harga ini tentu akan memakan biaya yang sangat besar bagi pemilik mobil, belum lagi ditambah dengan pajak, dan bermacam-macam biaya permobilan di Freiburg. Diperkirakan, para pemilik mobil akan mencoba untuk mengelak peraturan-peraturan tersebut. Di lain pihak, sejumlah flat untuk disewa jumllahnya sangat sedikit. Terutama untuk orang dengan penghasilan yang sedikit, mereka mempunyai kesulitan untuk menemukan apartemen. Alasan utamanya adalah bahwa pemerintah pusat dan negara mensubsidi bangunan itu sehingga disebut sebagai "social flats" yang jumlahnya semakin lama semakin dikurangi.
Di Vauban, kehidupan hijau (green living) sangat diwajibkan. Hal ini sejalan dengan sebutan Freiburg sebagai Green City. Di sisi lain, hal ini juga menimbulkan berbagai macam kontrol sosial. Jika seseorang berjalan di kawasan ini dengan membawa tas belanjaan Aldi maka mereka tidak akan dilayani karena dianggap berbelanja di toko yang menawarkan diskon dan tidak membeli produk organik. Hal ini menimbulkan rasa takut pada beberapa orang karena semua orang mengharapkan persamaan pandangan dan cara hidup hijau. Tentu saja hal ini juga mengindikasikan bahwa seseorang itu tidak boleh memiliki sebuah mobil. Mereka menuntut tetangga mereka untuk tidak mempunyai sebuah mobil padahal secara individual mereka sadar bahwa mereka butuh sebuah mobil. Ada yang punya mobil tapi tidak mengakui bahwa itu adalah miliknya dan memarkir mobil mereka di Merzhausen, sebuah desa yang sangat dekat dengan Vauban. Bahkan ada juga kelompok “radikal” yang sangat pro car-free dan ini membuat para pemilik mobil merasa tidak nyaman dan sering menimbulkan konflik sosial.
Tidak selamanya peraturan yang dibuat sedemikian rupa dan mengikat masyarakat secara masif dapat memberikan rasa aman dan nyaman. Di mana ada peraturan, di sana ada pelanggaran. Baik pelanggaran yang dikenakan sanksi hukum maupun sanksi sosial. Sebagaimana informasi yang saya dapat dari Alex (tandem partner terdahulu), bahwa Vauban menjadi sebuah gaya hidup baru bagi masyarakat Freiburg. Bagi mereka yang sangat cinta lingkungan, hal ini sangat cocok bagi mereka. Ternyata Freiburg yang dielu-elukan sebagai Green City juga mempunyai sisi negatif atas kepeduliannya terhadap lingkungan.
Konflik merupakan salah satu sisi kehidupan manusia dalam menjalin interaksi sosialnya. Dalam menjalin interaksi sosial paling tidak ada tiga bentuk hubungan sosial yaitu kerjasama, persaingan, dan konflik. Secara operasional konflik diartikan sebagai suatu hubungan sosial yang terwujud sebagai interaksi sosial antara dua pihak (bisa individu atau kelompok) atau lebih, yang tidak menunjukkan kesepahaman, keserasian, kesepakatan, atau tidak memiliki tujuan yang sama dalam memperjuanggkan kepentingannya atau kepentingan kelompoknya.
Referensi
Basri, Ardi. 2008. “Konsep Kota Hijau (Green City) sebagai Model Perencanaan Kota Baru Pesisir SK : Kawasan Sasa Sebagai Embrio Pengembangan Kota Ternate”. Tesis. Tidak dipublikasikan. Studi teknik Arsitektur Konsentrasi Desain Kawasan Binaan Pasca Sarjana UGM.
Roselan, Mark. 1997. “Eco-City Dimensions : Healthy Communities Healthy Planet”. New Society Publishers. Canada.
Internet
Saturday, November 29, 2008
cantik!
Nunu dan kakaknya -Hanif- sepakat bahwa orang cantik itu setengah perjuangan hidupnya telah selesai. Saya juga ikut ikut sepakat. Misalnya, orang cantik itu kesempatan “to get sumthing”nya lebih besar kan? Melamar pekerjaan, penampilan luar diutamakan pada beberapa jenis pekerjaan. Orang bilang, pandangan pertama akan menentukan langkah selanjutnya. Misalnya lagi, model iklan kosmetik wajah pasti orang yang cantik. Ya iyalah, kalau yang jadi model iklannya orang jelek atau setengah jelek atau setengah cantik bisa dipastikan produk tersebut tidak akan laku. That’s the fact. Apakah itu berarti bahwa orang yang tidak cantik berusaha lebih keras dibanding yang cantik atau sebaliknya? Jawabannya adalah 50%-50%. Tahu kan saya termasuk dalam golongan apa?. Tapi saya bersyukur, yeah, walau terkadang nyesel juga dengan tampang seperti ini. But, what can I do? Hahaha, tenang, sebenarnya saya hanya ingin membahas masalah kecantikan.
Cantik. Terkadang diasosiaikan sebagai putih. Jadi, cantik itu putih. Lihat saja semua produk kecantikan yang menawarkan keputihan [eits, bukan penyakit kewanitaan yah hehehe]. Kata mas Pujo [salah satu dosen Antro UGM],
“Jangan tergiur dengan putih, bersyukurlah dengan kulit yang seperti itu [brown.Red], ga usah pake whitening.”
Yeah kurang lebih seperti itulah. Hitam putih itu sama. Tapi kok cowok tidak berpikir seperti itu ya? Ahahaha, saya suka LOBO Antro! Dia hitam manis hahaha... Lala, peace!
Cantik adalah karakteristik pada diri seseorang, tempat, objek, dan ide yang menampilkan pengalaman perseptual dari kesenangan, sifat, atau kepuasan dari pikiran atau pandangan mata (sumbernya ini)
Tahu mbak Nefertiti?
Atau mbak Cleopatra?
Nah, konon kabarnya, mereka itu diklaim sebagai cantik yang sempurna. Bagaimana cantik yang sempurna itu? Seingat saya, kata mbah Phytagoras cantik itu berhubungan dengan kesimetrisan. Simetri tersebut membentuk Golden Ratio.
Nah, kalau membicarakan ini, yang paling saya soroti adalah bentuk hidung yang pasti tidak pesek seperti saya hahaha. Ya iyalah, yang pesek itu manis, yang mancung itu cantik. Seperti kucing Persia, semakin pesek semakin mahal ahaha. Setuju? Yeah, woteva! Okeh, sebenarnya dari tulisan ini bisa digali lagi cantik dari berbagai perspektif, hanya saja, saya tidak akan membicarakan itu. Ketertarikan saya bukan pada the body dengan segala macam pernak pernik luarnya. Mungkin saya lebih tertarik ke pembangunan, kemiskinan, dan lingkungan. Hahaha sok ngomongin antropologi ayayay... Neh tulisan cuma iseng doang...
P.S : Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, putus asa adalah dosa! Kata tabib muda Abdul Jafar [ahli pengobatan alternatif hahaha, teringat iklan ini di salah stasiun radio kota Palembang]
-jerawatan, sumpek, tugas numpuk, kangen, putus asa, GILA!!! Peace!
Thursday, November 20, 2008
Essenza [Tugas Sekolah Menulis - Fiction Session]
Kiki -yang dari tadi tak kulihat karena aku terpejam- lalu mengambil handphone dariku dan melanjutkan pembicaraan mengenai pulang mudik nanti. Aku? Aku langsung membenamkan kepala di bawah bantal -berbentuk tulang, kado ulang tahun dari sahabat G2- sembari terus-terusan mewek. Setelah pembicaraan mereka usai, Kiki bertanya berulang-ulang, "Yuk, kok nangis?". Diam. Aku diam, terisak. Terbayang baru saja kemarin aku membangun pilar-pilar semangat untuk menjadi seorang antropolog wanita Indonesia. Baru saja semalam aku menggarap tugas Metode Penelitian Etnografi dengan SANGAT SANGAT BERSEMANGAT. Salah satu faktornya adalah dia, aku tersenyum kecil membayangkannya. Matanya.
Tak tega membiarkan adikku bertanya tanpa mendapat jawaban, lalu aku berkata singkat dan datar, "Ntar Ki, ga bisa ngomong" sembari terisak-isak. Entah dia dengar atau tidak. Aku masih membenamkan wajahku di balik bantal dan merasakan bahwa dia sudah keluar dari kamarku. Aku? Aku tak membiarkan diriku berbaring di atas kasur terepes dingin itu! Aku langsung mandi, keramas. Ada suara dari luar kamar mandi, "Yuk, kau kenapa?". Singkat aku jawab, "Mandi". Kutuntaskan mandiku dengan ritual mengambil air suci. Hendak mengadu pada Tuhan, jika diizinkan (baca : insya Alloh).
Kulirik ijazah DIII yang teronggok tak berdaya di atas rak buku. Gara-gara aku nge-double kuliah dan telah menyelesaikan salah satunya, bukan berarti aku bisa menarik nafas panjang. Pernah aku ditawari pekerjaan tapi aku tolak dengan alasan perbedaan orientasi. Pekerjaan yang ditawarkan pasti akan banyak duduk, idealnya aku ingin keliling sebagai field worker. Itulah mengapa aku men-double kuliah. Banyak yang bilang bahwa apa yang kulakukan adalah kegilaan. Tak peduli. Tidak adil rasanya, disaat banyak yang mencari kerja aku malah menolak mentah-mentah kesempatan itu. Tapi disaat pilar-pilar semangat untuk kuliah berdiri kokoh, pilar-pilar itu hancur dalam hitungan detik! Terbayang iklan Essenza, pion-pion catur raksasa yang berjatuhan satu-persatu kemudian hancur. Padahal nampanya pion-pion itu besar dan kokoh. Aaah, nafasku kurang panjang rupanya.
Teringat aku pada impian-impian busuk masa sekolah dulu, kuliah dan menjalani hidupku -my own life- sesuai dengan apa yang aku inginkan, tanpa paksaan. Ibu dulu ingin aku jadi dokter umum atau dokter gigi-lah, minimal. Aku iyakan. Bapak dulu ingin aku jadi ambassador. Aku iyakan. Semuanya tidak ada yang tercapai, karena ternyata jauh di dalam lubuk hati, I said NO!. Alasan yang sangat sederhana, bukan? Tapi, kali ini rasanya aku ingin memohon pengertian dan restu ibu bapak untuk melangkah. Meminta sebentuk keikhlasan yang sangat tulus dari mereka sebagai pondasi pilar-pilar semangatku. Menggapai apa yang ingin aku raih. Tapi aku tidak punya kekuasaan untuk berkata tidak, aku masih menyusu pada mereka, mereka punya otoritas atasku. Aaah…
Sekarang aku ada di sini, entah untuk berapa lama. Mungkin sebentar lagi akan kutinggalkan kota berhati nyam-nyam ini. Kulempar jauh pandanganku ke utara, berharap pemandangan gunung di pagi hari dapat kunikmati hari ini. Nihil. Sepasang suami istri penguasa daerah utara itu belum menampakkan diri. Mungkin mereka masih berpelukan, mengusir dinginnya pagi. Kulemparkan pandanganku ke bawah jembatan, seorang lelaki tua duduk menenggelamkan sepersekian bagian pantatnya ke dalam air sembari merokok. Dunia adalah surga baginya. Lalu kuikuti langkah demi langkah para pekerja pagi. Menuju tempat transaksi ekonomi ke arah barat Tugu, sembari berkhayal, jika ada yang bertanya, apa yang paling ngangenin dari Jogja, akan kujawab, “Tidak ada’’. Jika ada yang bertanya, apa yang ngangenin dari Jogja, akan kujawab ,“Semuanya’’. Ah, bulir-bulir itu merambat turun lagi. Pandanganku mengabur, dingin sekali pagi ini.

Wednesday, November 19, 2008
Learn from Spiderwick
Sumpah ga sengaja nonton film ini (dipinjemin adekku QQ). Sumpah ini lebih mirip film Harry Potter (dari segi penamaan makhluk-makhluknya). Sumpah aku mendapati banyak hal yang terkait dengan antropologi. Sumpah kamu harus nonton filmnya. Tapi sumpah, lebih baek kamu baca dulu tulisanku berikut :
Spiderwick, seorang ilmuwan (entahlah tapi sepertinya iya) mengamati dan mempelajari makhluk-makhluk aneh (baca : luar biasa). Cerita ini memang fiktif belaka. Akan tetapi ada beberapa poin yang saya “tangkap” dari sekelumit kisah tersebut, di antaranya :
- Spiderwick mencoba mengamati dan mempelajari apa yang ingin diketahui olehnya. Tidak hanya mengamati, sepenangkapan saya Spiderwick juga mencoba untuk memahami nilai-nilai yang ada dalam “komunitas” tersebut.
- Hasil pengamatannya dituangkan dalam sebuah buku “keramat” yang dianggap sebagai hidupnya. Wajar, karena sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mengguratkan huruf demi huruf, gambar demi gambar, simbol demi simbol, hingga mantra dan berbagai ramuan, yang beberapa d antaranya digunakan sebagai pengetahuan untuk menangkal sesuatu yang jahat. Penuangan “pengalaman” tersebut melalui simbol-simbol dilakukan (pastinya) untuk mempermudah pemahaman orang lain dalam membaca hasil karyanya. Juga untuk “mempertegas” apa yang dia maksud dalam tulisannya.
- Usaha pengamatan tersebut tidaklah mudah. Dia harus bersabar, untuk menjadi “teman” dari setiap makhluk yang diteliti. Terkadang juga dia harus berusaha untuk memahami “bahasa” yang digunakan oleh makhluk-makhluk aneh (baca : luar biasa). Misalnya, dia harus memahami bahasa Griffin (burung berkepala singa) untuk dapat menjadikannya hewan peliharaan (sekaligus teman).
- Setelah menuangkan semua pengalamannya ke dalam buku tersebut, dia memberikan peringatan kepada pembacanya. Bahwa buku itu berbahaya, banyak pihak yang ingin mengetahui “the secret of the life”. Tentu saja bukan kehidupan Spiderwick tetapi kehidupan makhluk-makhluk aneh (baca : luar biasa) tersebut. Dia berusaha menjaga agar buku tersebut tetap aman dalam “lingkaran”. Dengan kata lain ia ingin menjaga nilai-nilai yang ada untuk perlindungan “keselamatan” mereka.
- Setelah ada seseorang yang “nekat” melanggar peringatan tersebut dan meminta pertolongan Spiderwick, ia berkata bahwa dirinya (Spiderwick) tidak bisa membantu apa-apa. Karena semua “pengetahuan” itu kini telah “berpindah” kepada si pembaca.
Ada benang merah antara apa yang dilakukan oleh Spiderwick dengan para antropolog, antara lain yaitu :
- Tak ubahnya dengan seorang antropolog, Spiderwick tidak hanya mencoba mengamati, akan tetapi juga memahami dan menjaga nilai-nilai yang ada pada pelaku kebudayaan (saya sebut kebudayaan karena saya seorang calon antropolog – cuih bahasanya bikin eneg hahaha).
- Sebelum terlambat dilibas masa, pembuatan catatan etnografis (buku haRIAN – kata mas Pujo sih buku monyet karena bentuknya yang kecil dan bisa diselipkan ke dalam saku) adalah langkah penyelamatan data juga sebagai alat “pembelaan” terhadap nilai-nilai yang ada pada diri penulisnya. Penggunaan gambar dan simbol juga hal yang sangat penting karena terkadang tidak cukup melukiskan sesuatu hanya dengan tulisan dan membiarkan pembaca berimajinasi “membangun” sebuah gambaran yang belum tentu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si penulis. Sekarang catatan etnografis bisa dipermudah dengan memasukkan foto (yang diambil dari kamera digital) untuk mendukung tulisan. Sebuah catatan etnografis juga merupakan “nyawa” bagi si penulis karena semua yang dia ketahui “harus” dituangkan ke dalamnya.
- Tidaklah etis meneliti (para antropolog dan calon antropolog tolong dibaca : mengamati) suatu masyarakat atau suku bangsa dengan tidak menjadi “teman”, seseorang yang dapat dipercaya. Sebenarnya, bisa saja melakukan penelitian dengan tidak menjadi teman mereka. Akan tetapi terkadang jika ingin mendapatkan sesuatu yang bersifat mendalam, kita mau tidak mau “harus” menjadi temannya. Akan tetapi keterlibatan terlalu jauh dalam hal perasaan, bisa menjebak kita ke dalam perspektif emik. Tentunya hal ini agak sedikit “berbahaya”. Sesuatu itu akan menjadi baik jika sesuai dengan kadarnya, jika kurang atau bahkan berlebih maka tidak akan menjadi sesuatu yang “pas”. Ingat bahwa kita juga mempunyai nilai-nilai yang harus dipegang. Oke, kembali ke pembahasan “menjadi teman”. Totalitas kehidupan manusia sebagai kajian antropologi dikaji oleh perspektif fenomenologi. Bahwa di balik fenomena yang kasat mata ternyata ada bagian-bagian tertentu yang mendalam dan hanya dapat digali melalui pengakuan-pengakuan subjek budaya (noumena). Ingat bahwa “mereka” bukanlah objek tetapi subjek. They do something. Bagaimana kita bisa mendapatkan pengakuan-pengakuan “terpendam” dari mereka jika kita tidak melakukan personal approach dan langsung main “tembak”? Etika. Saya tidak bermaksud untuk emngatakan bahwa pertemanan adalah suatu hal yang mutlak. You can think about it more than me (oh sial pake bahasa apa aku tadi???). Bahasa? Oh sepertinya saya lupa membahas item bahasa dalam kaitannya dengan poin 3 di atas. Oke, memahami bahasa pelaku budaya adalah penting. Akan tetapi saya tidak setuju dengan pendapat mbah Malinowski yang mengatakan bahwa kita (peneliti) harus mempelajari bahasa mereka (baca : subjek budaya) dengan baik barulah merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan dengan “kondisi” mereka. God, saya tahu bahwa dulu mbah Malinowski mengalami kesulitan dalam mengamati (entah, saya mulai sedikit muak -tidak suka- dengan kata meneliti, ada kesan yang “tidak baik” di dalamnya, I think) suku Trobian di Andaman. Mbah Malinowski sempat “merajuk” karena kendala bahasa tersebut. Menurut hemat saya, wajar saja karena yang beliau teliti adalah suku terasing. Zaman mbah Malinowski juga sudah terlampau jauh dengan waktu sekarang. Sekarang antropologi bergerak, tidak hanya mengamati suku terasing tapi juga masyarakat modern (persetan mereka yang bialang kalo kerjaan antropolog itu berkutat pada suku terasing yang sama sekali primitif! How dare you!). Seiring dengan revolusi antropologi itu, kendala bahasa bukan sesuatu yang boleh ditakuti lagi (including me). Tahu alasannya? Karena pada beberapa kasus, kita dapat menggunakan bahasa nasional atau bahkan internasional untuk berkomunikasi. Ingat bahwa saya tadi mengatakan bahwa antropologi bergerak. Got it? Kemudian, jika pendapat mbah Malinowski (sumpah saya tidak bermaksud lancang terhadapmu, mbah) saya benarkan, maka hal pertama yang harus dilakukan untuk mengamati adalah mempelajari bahasa (huaaah agak berat bagi saya) maka saya mematahkan perkataan beberapa dosen yang mengatakan bahwa awal dari sebuah pengamatan (oke, kalian boleh baca : penelitian) adalah pertanyaan. Apa yang terbayang di benak saya adalah begini : saya berangkat ke Jepang (misalnya) untuk mengadakan pengamatan dan yang harus saya takutkan adalah perbedaan bahasa. Saya tiba di tanah Jepang (pengen banget dari dulu hiks, sabar) tanpa menggenggam sebuah pertanyaan. Lantas apa yang harus saya lakukan??? Better to sleep tight on the bed! Apalagi bahasa Jepang tidak hanya bunyi, tetapi juga simbol (kanji hiragana katakana) yang tidak akan pernah saya hapalkan semuanya! Lain halnya jika saya tiba dengan menggenggam sebuah pertanyaan. Maka langkah saya selanjutnya akan tertuju pada “sesuatu” yang “mungkin” bisa menjawab pertanyaan saya. Ingat bahwa ada kekuatan mengamati yang mungkin tidak dimiliki oleh non-antropolog. Dari pengamatan kita dapat “menceritakan” sesuatu. Jika ingin lebih mendalam, maka kita butuh bahasa. So, so far apakah kamu mendapatkan apa yang saya maksudkan? Tidak??? Oh nooo! Apakah saya terlalu berbelat-belit??? Oke, begini, bahwasannya saya tidak setuju bahwa kita harus berangkat dari keinginan untuk “mendalami” bahasa dan bukannya merumuskan suatu pertanyaan. Semoga saya tidak terlalu berapi-api. Ingat, saya tidak mengatakan bahwa kemampuan berbahasa itu tidak penting. Of course it’s important, tapi pada kondisi yang seperti apa? Pembahasan poin 3 ini teramat sangat panjang sekali!
- Peringatan bahaya yang diberikan oleh Spiderwick juga harus dipahami oleh peneliti. Bahaya di sini dimaksudkan sebagai “the secret” yang dipahami sebagai kekayaan noumena. Ada nilai-nilai yang harus dijaga. Diilhami oleh Nunu, maka saya juga akan menjawab, “Oh antropologi itu ilmu menjajah, untuk pertanyaan “Eh, apa sih antropologi tuh? Nggali situs ya? Mempelajari suku terasing ya???”. Juga untuk sederetan pertanyaan yang berhubungan darah (bersaudara-bertalian) dengan itu. Berangkat dari awalnya disiplin antropologi (jika saya sebut ilmu antropologi maka saya bodoh, anthropos dan logos = ilmu manusia, ilmu antropologi = ilmu ilmu manusia) sebagai “alat” untuk mempelajari bangsa lain kemudian dijajah, semoga antropolog sekarang lebih bijak dalam menerapkan tujuan pengamatannya. Jika untuk tujuan baik, silahkan, go ahead, tapi jika untuk tujuan jahat, please don’t do that! Apa sih RIAN nih???
- Pengetahuan yang berpindah dari Spiderwick ke si pembaca buku keramat, mengindikasikan bahwa apapun yang akan dilakukan setelah membacanya sepenuhnya menjadi hak si pembaca. Maka dari itu, jadilah pembaca yang bijak (buat saya juga hahaha). Juga, bukan berarti setelah membaca maka semua pengetahuan dirasa cukup. Kata mas Pujo, semakin banyak membaca, bukan semakin banyak tahu tapi semakin bodoh (baca : ingin tahu). Tidak berarti bahwa sebuah pengamatan yang sudah pernah dilakukan tidak berpotensi untuk dikaji ulang, semakin banyak pengkajian, semakin akan menjadi menarik. Haduh haduh, bukan juga berarti kita tidak boleh melakukan pengamatan lain. Sebenarnya ini ditujukan untuk saya. Saya memilih tema yang pernah dilakukan oleh orang lain akan tetapi saya meyakinkan bahwa : lain ladang lain belalang hehehe...
Sepenggal pelajaran dari film Spiderwick (maaf lupa judul lengkapnya hahaha)...
P.S : kebudayaan yang tidak diperhatikan sekarang mungkin esok sudah hilang tanpa meninggalkan jejak... Huek! Sok puitis!
Wednesday, November 12, 2008
Samp-AH!
Begini ceritanya. Ga mau tau ya? Bodo', blog ini diklaim sebagai blogku koq ;p
Hari Senin yang lalu aku dan Lala memutuskan untuk ke Sanggar di Minomartani. Apa itu Sanggar? Sanggar adalah tempat pemberdayaan "sampah" [CMIIW]. Setiba di sana, kami bertemu pak Wisnu [pemberdaya] dan "sedikit" bercerita masalah sampah [ya apalagi?] serta pembuatan kompos dengan teknologi aerob. Awalnya beliau bertanya padaku apa maksud dan tujuan kedatangan kami. Aku menjawab :
"Cuma mau nitip botol-botol ini pak..."
Aih, di tempat itu kami "dibantai" tentang permasalahan sampah. Tapi mohon jangan dibayangkan pembantaian kaum Yahudi yang dilakukan oleh Nazi yap! Pembantaian ini "mengajari" kami tentang sampah. Aku mendiskusikan masalah penggunaan plastik oleh orang-orang. Kemudian pak Wisnu bilang :
"Kamu ga bisa melarang orang nggunain plastik. Coba kalo ga ada plastik, apa-apa harus pake logam, kan mahal..."
DOOOR!!!
Ga maksud seperti itu, sungguh... Kemudian aku melakukan pembelaan diri dengan berkata :
"Saya ga melarang mereka untuk make' plastik. Orang saya cuma nulis tentang banyaknya plastik yang saya gunakan dan mulai mengurangi pemakaiannya kok pak..."
Kemudian dijawab lagi oleh beliau :
"Kalo cuma kamu, 1 orang, ya ga ada artinya..."
Saya bingung dan bertanya dengan polos :
"Lho, kalo cuma saya trus ga ada artinya, jadi kalo saya nulis pengalaman saya itu -lalu dibaca oleh khalayak- apa saya salah pak?"
Kemudian [lagi] beliau menjawab :
"Nah kalo gitu boleh, nulis biar orang tau..."
Ealah... Dari awal juga aku bilangnya bukan order u to stop using plastic... Huahaha... Bukan berarti yang mengurangi penggunaan plastik cuma aku aja [mustahil banget]. Kamu tau? Seorang Fiit juga mengurangi penggunaan plastik, Lala juga pernah berkata pada pramuniaga toko :
"Saya juga ga pake plastik mas..."
See? It's not just me... Trus apa sih intinya?
Intinya adalah, kami sadar bahwa sesungguhnya ga ada yang salah dengan sampah. Kesalahan ada pada menungso-ne [benul ga ya nulisnya? wakaka]... Sekali lagi, bukan berarti aku aktifis lingkungan yang selalu menggembar-gemborkan buat nyetop pemanasan global. Aku cuma pengen berbagi [kasih, lho?!!!] pengalaman.
Nah, keluar dari topik plastik dan sampah... Pertanyaanku adalah :
"Bisakah kita nyetop global warming?"
Kalo jawabanku :
GA BISA
Tapi ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk memperlambat kerusakan... Sekali lagi, I just want to share...
-ngantuuuk_
Sunday, November 9, 2008
PR Sekolah Menulis -1
- Kejadian mencari harta karun [baca : sampah] di pekarangan kost Adis yang dikubur di dalam tanah [mang bisa ngubur di aer? ntu namanya nenggelemin]. Waktu itu kami mau mengubur anak kucing yang mati.
- Pengalaman masa lalu tentang penguburan dan pembakaran sampah rumah tangga. Sampah yang ga habis dibakar dikubur sama bapak. Sampah yang habis dibakar [baca : dedaunan] "dimusnahkan" di tempat yang berpindah-pindah biar semua pekarangan jadi tanah yang subur.
- Cerita tentang "aksi" penyelamatan lingkungan oleh beberapa toko dengan cara "membujuk" pelanggan agar mengurangi penggunaan plastik -belanj aan-.
- Cerita tentang aku yang dianggap aneh kalo mbawa belanjaan tanpa tas plastik -dianggep ngutil kali ya-.
- Makna di balik fakta yang belum aku tuntaskan, yaitu motif lain dari toko tersebut. MUNGKIN ada motif ekonomi, bukan hanya motif penyelamatan lingkungan.
Gambar-gambar :
"Kesepian", Depok Bitch (Beach) - Foto bonus
P.S : nuwun sanget buat Lala dan kak Putu.
-sumpah ngantuk!_
aih aih aih aih aih aih aih . . . . . . .
-menarik napas panjang, ditahan, kentut deh heeheehee_









































