Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Monday, December 28, 2009

am [not] okay - without capital letters

-taken from my chemical romance_

what will it take to show you that it's not the life it seems?
(i'm not okay)
i've told you time and time again you sing the words but don't know what it means
(i'm not okay)
to be a joke and look, another line without a hook
i held you close as we both shook for the last time take a good hard look!

i'm not okay
i'm not okay
i'm not okay
you wear me out

forget about the dirty looks

aku berharap bahwa aku dalam keadaan yang baik baik sahaja. and i am... am fine! tapi ada sesuatu di dalam hati yang tidak bisa aku tangkap dan lihat rupanya. aku ga tau apa itu atau siapa itu. tapi aku berharap bahwa itu adalah aku. aku yang sedang merasa sedikit aneh di akhir tahun ini. am out from facebook. ini yang ketiga kalinya. semoga cepat kembali setelah hati ni berbisik jujur, "am fine..."

walau hati adalah organ terumitku, untung nih otak masih berfungsi dengan baik walau kadang aku terlihat gila. otakku memerintahkan, "out of it for a while". bersiap menata hati. bersiap menghadapi tahun depan. semester baru. mata kuliah baru. masalah baru. kehidupan baru. serba baru. am out!

-little.aya_

Monday, December 15, 2008

siaaaaaaal!

Sial berkepanjangan!
Ada apa denganku hari ini?
Yang salah attach lah,
yang salah kirim lah,
yang salah tugas lah,
yang salah apa lagi ya???
Ugh!
Tapi gpp, berikut kuberikan poto2 si Pussy,
penghuni mushola FIB... [kalungnya tuh gelang kakiku hahaha]...

ugh, sembunyi sembunyiii!


eits, apaan tuh???


ih, apa siiih???


heh, kurang ajar! apa sih itu???


ih sebel! gerak2 mulu, mencurigakan!


endus endus... ealah... jarinya kak aya'...


bosen ah! eh ada capa tuh???


asik asik asik, mimik ah...


"maaak..." - "hmmm, opo toh???"


mimik sih...


pussy, opo toh??? geliii!!!


ehehe, makanya mak jangan pelit...


asik asik asik, dapeeet!!!


eh, keliatan! ngumpet2 ah...

Tuesday, December 9, 2008

Penggal penggal : Antara Aku, Tulisanku dan Dunia

Kulirik jam di side bar laptopku. 01:35. Ya Tuhan, apa yang kulakukan? Masih terjaga sepagi ini. Aku bersandar, duduk menindih bantal kepala. Kuangkat laptop, kududukkan di pangkuan. Rintik hujan terdengar. Di luar jendela, sunyi... Kulempar lagi pandanganku. Kali ini ke seluruh sisi ruangan. Kamarku, istanaku. Nothing special. Hanya serakan baju, buku, botol air mineral, dan...kulit jeruk. Aku bahkan tak ingat. Kapan terakhir kali aku bersih-bersih. Mataku terpaku di pojok kanan. Setumpuk baju, bersih. Kuangkat dari jemuran. Kira-kira...hmmm, sebentar. Biar kupikirkan dahulu. Dua atau tiga hari lalu. Sial! Aku tak bisa mengingatnya. Cheese! Aku jijik! Kamarku istanaku? Ugh! Lebih mirip dengan...ya! Kapal pecah! Tepat sekali!

Kulemparkan lagi pandanganku. Lebih liar kini. Menyapu seluruh ruangan. Tanpa terkecuali. Kanan, tengah, kiri, atas, bawah, acak, berulang. Semua hampir tidak pada tempatnya. Apa itu? Mataku terhenti di tengah-tengah. Plastik dengan gambar...entahlah. Aku tidak yakin itu gambar. Itu hanya sesuatu...entahlah. Aku tak bisa mendeskripsikannya. Hanya warna. Pink. Warna kesukaan para wanita. Tidak bagi aku! Aku alergi! Tak sadar, bibirku mengeja cepat. “En i ni ce e”. N-I-C-E. NICE! Ah, plastik bekas tisu toilet. Kurobek liar tadi malam. Menghapus tiap bulir air mata yang turun. Tisu bertebaran. Bergumpal-gumpal. Plastik itu tergeletak begitu saja. Setengah tertindih jaket merah darah. Dekat lipatan mukenah. Lipatan? Cheese! Kalau layak disebut lipatan. Aku lebih suka menyebutnya...gumpalan! Hahaha, aku pintar!

Aw, pundakku sakit. Pundakku menggeliat di dinding dingin. Kuputar leherku, kiri, kanan. Hmmm, mataku terpaku. Camelia dalam botol. Warna putihnya tersamarkan. Warna lampu berpijar kekuningan menerpa. Membuat warnanya semakin eksotis! Aku ingat, dulu kusimpan camelia. Di kamarku. Dulu sekali. Sampai mengering dan tak bisa kubedakan. Apa itu camelia atau edelweis. Hmmm, aku selalu mengaguminya. Aku ingat. Bertanya kepada penjualnya. “Camelia ada artinya ga pak?”. Si penjual menggeleng. Tak penting bagiku. Suka ya suka. Tak ada alasan. Terkadang sesuatu itu tak butuh alasan. Hihihi, aku merasa senang. Kubuat setiap yang melihat camelia dalam botol itu menerka. “Dari X ya?”. “Dari X ya?”. “Dari X ya?”. Sial, mana punya aku X! Yeah, setidaknya mereka tertipu. Hahaha. Aw! Pundakku sakit... Tercium aroma jeruk. Pewangi yang kugantungkan di jendela. Dibawa angin dari sela-sela. Jendela tak kututup rapat. Sengaja. Hmmm, wangi... Aku suka aroma jeruk!


Kubenarkan posisi sandaranku. Kutekankan kedua telapak tanganku ke kasur. Tekan, setengah angkat, kutarik pantatku mendekat. Lebih dekat ke dinding. Kugaruk kepalaku. Kapan terakhir kali aku keramas? Tadi pagi kok. Tapi kok terasa gatal ya? Hoaaam. Aku menguap. Ingin tidur. Sangat. Tapi tak bisa. Mataku sebesar-besar bola pingpong. Lho, apa ini? Ada yang berlari menuruni pipiku. Pandanganku mengabur. Ssssssrt, kuhisap cepat. Cairan yang hendak keluar dari hidungku. Lagu daerahku mengalun di MP3.

“Diruuut, Diruuuut jangan nangis. Bapak nak begawe... Dirut jangan nangis...”

Tiba-tiba pikiranku melayang. Terbayang saat aku kecil, dulu. Kupejamkan mataku... Angin malam berhembus, dingin. Aku duduk berdampingan. Dengan adik laki-lakiku. Di teras depan rumah. Entah pukul berapa waktu itu. Yang jelas, bintang bertebaran, banyak sekali... Entah apa ada suara serangga malam waktu itu. Aku tak ingat. Yang jelas, aku melingkarkan lengan kiri ke bahu kirinya. Kami terdiam. Entah apa yang ada di pikiran kami waktu itu. “Yuk, masih lamo ye ibu balek ?”. “Dak tau dek, mungkin ”. “Maen tebak-tebakan yuk. Kiro-kiro bis mano yang mbawa ibu balek”. Dia mengangguk, tersenyum tipis. Brrrrrm. Aku tak tahu bagaimana. Kuanggap saja seperti itu bunyi bisnya. “Itu!”, jeritnya seraya sontak berdiri dan setengah berlari. Menghampiri pagar.

Aku ikut berlari, tiba-tiba berhenti. Ternyata bukan. Bis itu tidak berhenti di depan rumah kami. Adikku menapakkan kakinya. Menjajal besi demi besi. Sebesar lengan orang dewasa. Berwarna mengkilap. Stainles steel. Kata orang. Lalu kami duduk tertunduk di atasnya. Terasa dingin. Karena kabut malam, mungkin. Kami menghadap ke jalan raya. Aku menjajarinya, kembali merangkulnya. Brrr, dingin. “Dek, galak putu dak? Apo nak mi tek tek? ”. “Mano be, terserah”, jawabnya. Tling tling tling, dia mengetuk-ngetukkan kukunya ke pagar. Kakinya berayun-ayun. Malam seperti ini. Yang ada hanya kue putu atau mi tek tek. Bunyinya tek tek tek. Memukul-mukul wajan. Dengan sutil. Jadi disebut mi tek tek. “Tunggu sini ye, ayuk mbek duit dulu ”. Aku turun, berlari cepat. Masuk ke pintu depan. Belok kanan. Lurus. Belok kanan. Kurogoh kantong seragam SD ku. Nihil. Ku geledah tas punggung yang tergantung di belakang pintu. Kubuka semua retsletingnya. Kuhamburkan semua isinya. Nihil. Aku berlari ke luar kamar. Belok kiri. Lurus. Belok kanan. Aku berhenti. Kutatap pintu besar bercat putih. Kuletakkan tangan ke gagang pintunya. Kugenggam, setengah kutekan. Kuurungkan niatku. Ini kamar ibu, aku tak berani.

“Dek, ayuk katek duet . Gek ngutang be yo . Mang Juki kan tau dengan kito”. Ia menggeleng. “Terserah”. Brrr, dingin. Brrrrrm brrrrrm brrrrrm. Dia mendongak, tersenyum, badannya tegap. Aku harap-harap cemas. Bis itu berhenti! Tepat di depan kami! Brrrrrm brrrrrm brrrrrm. Bis itu pergi lagi. Mengepulkan asap hitam dalam pekatnya malam. Membumbung tinggi, lalu hilang. Tertiup angin malam, dingin... Sesosok tinggi bertopi membelakangi kami. Berjalan pelan. Memasukkan tangannya ke dalam jaket. Berjalan ke dalam lorong.. Lalu menghilang. Ditelan gelap malam. Uh, bukan yang kami tunggu! “Yuk, mang Juki jualan dak ye malem ni?”. “Pastilah, tunggu be ye”. Lima. Tujuh. Sepuluh. Lima belas menit. Tak ada bis ibu. Tak ada mang Juki. Anjing melolong panjang. Hitam, si hitam. Milik si Batak. Dua hari kemudian mati. Diracun, mungkin. Banyak yang tak suka dengan anjingnya. Suka mengejar, liar. Aku pernah, dikejar! Aku menangis, menjerit, minta tolong. Dia tidak betul-betul mengejar. Hanya menggertak. Mungkin dia suka. Melihatku lari terbirit-birit. Sembunyi di sela-sela pohon ketela. Di kebun pak Madi’. Aku benci lewat belakang rumah! Sialan!


Kutatap lagi langit. Bintang...banyak sekali. Kiki memutar badannya 180 derajat. Melompat turun, tak menoleh ke jalan raya. Ditendangnya bakal buah kelapa seukuran kenari. Gugur sebelum jadi kelapa. Di rumahku banyak pepohonan. Ibu dan bapak suka bertanam. Angin bertiup. Lumayan kencang. Mengusik dahan-dahan kelapa. Ssssrk sssssrk ssssssssrk. Dahan kelapa berbisik, “Lihat itu, mereka menunggu ibu pulang, hihihi...”. Aku mengikuti Kiki. Menjajari langkahnya. Tak kugubris ejekan dahan kelapa. Apa peduliku?!. Kutepuk nyamuk. Nakal, menghisap darah di jidatku. Plaaak! Mati dia! Hening... Tiba-tiba kami berhenti. Serentak. Saling menatap lalu tersenyum. Bak tentara, kami memutar badan serentak. Tanpa aba-aba. Berlari-lari menghampiri pagar, memanjat, lalu melompat turun. Pandangan kami menyapu semua arah. Belum, belum nampak. Tapi suaranya terdengar dari kejauhan. Tuuuut tuuuuut tuuuuuuut. Lambat laun terlihat. Bakul persegi dari kayu berayun. Naik turun. Naik turun. Mang Juki memanggul bambu. Warnanya hitam, dipenuhi jamur mungkin. Wajahnya tak terlihat. Tertimpa cahaya sentir kekuning-kuningan.

Seperti biasa. Mang Juki memakai topi hitam. Di lehernya melingkar handuk salon. Kami menunggu. “Ki! Yan! Nak beli? Lagi nunggu ibu yo?”. “Iyo mang, tapi boleh ngutang dak? Ayuk dak katek duet. Kiki jugo dak ado mang... Bik Iyah dah bobok. Tapi pasti besok dibayar ibu”, celoteh Kiki cepat. Mang Juki tersenyum simpul. Diusapnya kepala Kiki. Diturunkannya bakul persegi itu ke atas tanah. Dilepaskannya bambu dari tali penggantung bakul. Tuuuut tuuuuut tuuuuuuut. “Nak berapo Ki?”, tanyanya sembari sibuk. Menyodok-nyodok potongan bambu kecil. Mengisinya dengan bahan. Tepung dan gula aren. Kiki menatapku, meminta persetujuan. Aku hanya senyum. “Sepuluh! Tar kami bagi duo”. “Siap bos! Bapak begawe malem?”.

Mang Juki membuka penyumbat lubang kecil beruap. Diletakkannya ruas demi ruas bambu isi bahan. Tak satupun kami menjawab. Kuanggap mang Juki melihat. Tak ada mobil di garasi. Berarti bapak pergi. Kerja malam. Membuat pupuk, kata orang-orang. Kami terpukau, selalu. Cekatan sekali! Hanya suara sibuk mang Juki. Terdengar dalam heningnya malam. Brrrr, dingin... Kelelawar melesat turun. Meninggalkan istananya. Dahan kelapa depan rumah. Kalau siang mereka seperti buliran air hitam raksasa. Tapi tak pernah menetes. Menggelantung. Terkadang bergoyang-goyang. Tertiup angin. Kami suka, melemparinya. Dengan kerikil. Hihihi...

Aku duduk lagi di atas pagar. Kiki sibuk bercerita dengan mang Juki. Brrr, dingin... Tiba-tiba dari sebelah kiri ada bis melaju. Brrrrrm brrrrrm brrrrrm. Aku sigap. Adikku tidak menyadari rupanya. Hingga bis berhenti tepat di depan kami. Kiki menoleh, celingukan. Sesosok wanita menjinjing tas dan buku. Menghadap kami, tersenyum. Kiki menjerit, “Buuuuu!”. Bulir-bulir hangat turun perlahan di pipiku. Pandanganku mengabur. Aku menghambur berlari. Mendekap erat tubuh Kiki yang menempel di tubuh ibu. Wangi ibu, aku selalu suka. Entahlah, wangi apa itu. Wangi sibuk. Wangi keringat. Wangi ketiak. Dari pagi hingga malam, sibuk. Ibuku guru, kalau sore kuliah. Sampai malam, sibuk... Hmmm, aku hebat. Bisa kembali ke masa lalu. Tak kusadari, badanku tak lagi menyender. Laptop di atas kasur, badanku berbaring. Sejak kapan posisiku berubah?

Kuletakkan kembali laptop. Di atas meja lipat kecil, gambar One Piece. Aku suka kartun itu. Bajak laut, bertualang. Bebas, lepas... “Aku juga mau”, batinku. Membayangkan laut, biru, luas, lepas. Realitanya, aku di sini. Kubus 27 meter kubik. Dua jendela, satu pintu. Warna oranye mendominasi. Aku suka jeruk. Aku suka oranye. Aku menarik napas panjang. Menggaruk-garuk jidat. Memukul-mukul pelan. Memaksa berpikir. Tema, tema, tema... Besok deadline lomba. Belum juga aku dapat tema. “Antara aku, tulisanku dan dunia”. “Antara aku, tulisanku dan dunia”. “Antara aku, tulisanku dan dunia”. Berulang-ulang kubisik pelan temanya. “Siapa aku? Apa tulisanku? Ada apa dengan aku? Duniaku di mana? Aku penulis???”. Yeah, mungkin. Setidaknya, menulis laporan. Tiap hari, tiap minggu, tiap saat. Hampir botak rasanya. Bersaing dengan Prof. Y. Beliau mirip dengan...yap! Gubernur Gotham. Di film Batman. Seperti pinguin botak!


Kuulang lagi. Pertanyaan demi pertanyaan. “Siapa aku? Apa tulisanku? Ada apa dengan aku? Duniaku di mana? Aku penulis???”. Aku mahasiswa. Tulisanku tak banyak. Lebih suka ngeblog. Kadang terpaksa menulis laporan. Makalah-makalah. Essay-essay. Tidak ada yang salah denganku. Hanya saja...aku terkurung. Dalam kubus 27 meter kubik. Dua jendela, satu pintu. Keluar hanya pagi hingga malam. Sebelum larut. Pukul 21.00 harus ada di kamar. Di rumah. Tiga bulan lalu, divonis. Bronchitis. Artinya, tidak ada lagi. Kelayapan dimalam hari. Hihihi, kenapa? Kau mengharapkan yang lebih? Lebih menakutkan? Lebih dramatis? Kanker misalnya? Atau...AIDS? Hahaha tidak tidak tidak. Ini bukan cerpen dramatis. Yang berakhir kematian. Aku bosan. Terlalu klasik. Ah, terbayang kelelawar itu. Yang melesat turun. Dari istananya, dahan kelapa. Depan rumahku, di Palembang. Kenapa dia tidak mengidap Bronchitis? Uh, sebaaal! Kelelawar sial! Rintik hujan berirama. Di luar jendela. Brrr, dingin...

Ya ya ya! Aku tahu! Pak Wisnu pernah. Bilang padaku. Begini katanya, “Kau tidak bisa memaksa. Orang punya hak pakai plastik. Kau tidak berhak. Melarang. Jangan”. Rohku melayang. Kembali ke beberapa minggu lalu. Aku dan Lala. Ke Minomartani. Ke sanggar sampah. Tempat mengelola dan belajar. Tentang sampah. “Kau tidak bisa memaksa. Orang punya hak pakai plastik. Kau tidak berhak. Melarang. Jangan”. Beliau salah paham. Dikiranya aku aktivis lingkungan. Bukan, aku bukan. Dikiranya aku berkampanye. Berteriak di pinggir jalan. “Jangan pakai plastik! Jangan pakai plastik!”. Tentu tidak. Gila aku! Hahaha. Aku hanya menulis, sebagai bahan. Tugas Sekolah Menulis. Essay ilmiah tentang sampah. Aku menulis, bahwa aku mengurangi. Mengurangi pemakaian plastik. Dikira pak Wisnu aku melarang orang. Tentu tidak. Aku bilang, “Kalo cuma saya, yang mengurangi. Tidak berarti apa-apa. Tapi saya juga tidak boleh melarang. Melarang orang memakai plastik. Trus gimana dong Pak? ”. Beliau terdiam sejenak. Berjalan berdampingan dengan Lala. “Saya cuma nulis. Dalam esay buat tugas. Tentang pengalaman saya. Mengurangi sampah plastik”, tambahku. Mata beliau terbelalak, “Oh ya kalo gitu bagus. Nulis biar orang tahu”. Huuufh, aku melepas napas. Lega. Itu yang aku maksud.

Apa? Kamu bertanya apa intinya? Kamu tidak menangkap? Tulisan. Orang tahu. Itu yang aku butuhkan. Aku, Tulisanku dan Dunia. Tema lomba tulisannya. Aku yang menulis. Tulisan kosong ini. Aku melempar-lempar kamu. Ke kamarku. Ke kampung halamanku. Ke Minomartani. Tidakkah kau merasa? Itulah kekuatan tulisan. Membawamu, ke manapun. Si penulis membawamu. Sesukanya. Menceburkanmu dalam pekat malam. Menggiringmu, serasa terengah-engah. Ketika adegan dikejar anjing. Membagi pengalaman, yang tak kau alami. Tapi kau tahu. Yeah, lewat tulisan. Penggalan kata-kata pendek. Entah kata. Entah kalimat. Entah huruf. Entah apapun itu. Padahal aku masih di sini. Begitu pula kau. Masih dalam posisi sama. Tapi si penulis memang penyihir! Dia melontarkanmu. Ke sana, ke sini. Sesukanya! Sial! Aku penulisnya tah? Hihihi...

Stop! Aku melihatnya, tulisan. Huruf G dan P kapital. Dicetak besar, dan tebal. Di selembar kertas. Tertempel di dinding warna oranye. Di atas meja lipat kecil. Di bawah foto narsis. Aku dalam balutan gaun abu-abu. Aku seperti perempuan di situ. G-P. Singkatan dari Garis Panjang. Kami sebut komunitas GP. Teman-teman anak jalanan. Kami mengajari mereka. Berbagi pengalaman positif. “Melarang” mereka ngelem. Selagi menggambar, dan bermain. Bersama kami, aku, Nunu, dan Fiit. Di perempatan Tugu. Malam hari, tentu saja, sebelum pukul 21. Mereka suka memotret. Pakai kamera digital Nunu. Mereka tidak ngelem, atau merokok. Ketika bersama kami. Mereka sibuk jeprat-jepret. Sibuk corat-coret. Lupa ngelem. Lupa ngerokok. Memperlambat kematian mereka. Ah, sedang apa mereka? Di luar hujan. Dingin. Apa mereka tidur? Mereka kedinginan tak? Bulir-bulir itu menuruni pipiku. Lagi. Terasa hangat. Tapi lengket...

Kami suka, melihat mereka tertawa. Waktu itu, 17an. Agustus 2008. Hari kemerdekaan. Kami tanding futsal. Dengan bintang tamu. Alex. Alexander Ell. Germany. Datang ke Jogja. Meneliti bersamaku. Tentang, ah... tak usah kusebutkan. Kami berlari, saling menendang. Saling jagal. Tertawa, lepas. Mandi debu. Di lapangan Muhi. Siang bolong. Telanjang kaki. Panas dan sakit. Kami tak peduli. Tendang teruuus! Timku dan Alex kalah. Tim Komandan menang. Mereka punya komandan. Orangnya hitam manis. Jago sekali pokoknya. Lomba demi lomba. Permainan tradisional. Ala 17an. Makan kerupuk. Pecah air. Lari kelabang. Hingga lomba nangis. Kata Alex kami kejam. Memaksa mereka nangis. Dia tak percaya. Ternyata, tidak ada tangis. Mereka tak bisa. Mereka tertawa. Geli. Hanya Komandan. Seksama, mendalami semedinya. Mencoba menangis. Tapi hanya tetes demi tetes. Dan menang!

Apa? Kau bertanya apa intinya? Aku memberitahu padamu. Dunia mereka kejam. Tapi mereka tidak menangis. Sulit bagi mereka. Tapi mereka suka tertawa. Satu pelajaran bagiku. Aku tidak boleh menangis. Seperti semalam. Mengotori kamar dengan tisu. Berserakan di mana-mana. Menyesali diri. Mengeluhkan tugas. Mengeluhkan kesepian. Aku dikalahkan GP! Mereka tegar, sangat. Padahal dunia mereka kejam, kata orang. Tapi mereka tertawa... Menyembunyikan kesedihan. Aku, tulisanku dan dunia. Dunia bukan hanya milikku. Buka mata... Selamat malam, mari tidur... Besok pasti kubereskan kamarku. Pasti! Hoaaam... Aku menuliskan duniaku, duniamu, dunia mereka. Ke dalam tulisan kosong... Celoteh... Sudah-sudah! Ayo tidur!

Saturday, November 29, 2008

cantik!

Nunu dan kakaknya -Hanif- sepakat bahwa orang cantik itu setengah perjuangan hidupnya telah selesai. Saya juga ikut ikut sepakat. Misalnya, orang cantik itu kesempatan “to get sumthing”nya lebih besar kan? Melamar pekerjaan, penampilan luar diutamakan pada beberapa jenis pekerjaan. Orang bilang, pandangan pertama akan menentukan langkah selanjutnya. Misalnya lagi, model iklan kosmetik wajah pasti orang yang cantik. Ya iyalah, kalau yang jadi model iklannya orang jelek atau setengah jelek atau setengah cantik bisa dipastikan produk tersebut tidak akan laku. That’s the fact. Apakah itu berarti bahwa orang yang tidak cantik berusaha lebih keras dibanding yang cantik atau sebaliknya? Jawabannya adalah 50%-50%. Tahu kan saya termasuk dalam golongan apa?. Tapi saya bersyukur, yeah, walau terkadang nyesel juga dengan tampang seperti ini. But, what can I do? Hahaha, tenang, sebenarnya saya hanya ingin membahas masalah kecantikan.

Cantik. Terkadang diasosiaikan sebagai putih. Jadi, cantik itu putih. Lihat saja semua produk kecantikan yang menawarkan keputihan [eits, bukan penyakit kewanitaan yah hehehe]. Kata mas Pujo [salah satu dosen Antro UGM],


“Jangan tergiur dengan putih, bersyukurlah dengan kulit yang seperti itu [brown.Red], ga usah pake whitening.”


Yeah kurang lebih seperti itulah. Hitam putih itu sama. Tapi kok cowok tidak berpikir seperti itu ya? Ahahaha, saya suka LOBO Antro! Dia hitam manis hahaha... Lala, peace!


Cantik adalah karakteristik pada diri seseorang, tempat, objek, dan ide yang menampilkan pengalaman perseptual dari kesenangan, sifat, atau kepuasan dari pikiran atau pandangan mata (sumbernya ini)


Tahu mbak Nefertiti?

Atau mbak Cleopatra?

Nah, konon kabarnya, mereka itu diklaim sebagai cantik yang sempurna. Bagaimana cantik yang sempurna itu? Seingat saya, kata mbah Phytagoras cantik itu berhubungan dengan kesimetrisan. Simetri tersebut membentuk Golden Ratio.


Nah, kalau membicarakan ini, yang paling saya soroti adalah bentuk hidung yang pasti tidak pesek seperti saya hahaha. Ya iyalah, yang pesek itu manis, yang mancung itu cantik. Seperti kucing Persia, semakin pesek semakin mahal ahaha. Setuju? Yeah, woteva! Okeh, sebenarnya dari tulisan ini bisa digali lagi cantik dari berbagai perspektif, hanya saja, saya tidak akan membicarakan itu. Ketertarikan saya bukan pada the body dengan segala macam pernak pernik luarnya. Mungkin saya lebih tertarik ke pembangunan, kemiskinan, dan lingkungan. Hahaha sok ngomongin antropologi ayayay... Neh tulisan cuma iseng doang...


P.S : Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, putus asa adalah dosa! Kata tabib muda Abdul Jafar [ahli pengobatan alternatif hahaha, teringat iklan ini di salah stasiun radio kota Palembang]

-jerawatan, sumpek, tugas numpuk, kangen, putus asa, GILA!!! Peace!




Thursday, November 20, 2008

Essenza [Tugas Sekolah Menulis - Fiction Session]

Kulirik jam beker di atas meja belajar. Pukul 5 pagi. Kiki menggedor-gedor pintu kamarku, “Bangun! Ibu telpon nih!’’. Oh ternyata ada telpon dari seberang pulau sana –di mana aku selalu merindukan yg terkasih-. Terdengar suara dari tempat yang teramat jauh, "Lagi apa? Kapan pulang? Yan, ini baru diam-diam sih... Ada tawaran kerja di Pertamina ngegantiin orang yang pensiun. Infonya langsung dari beliau. Pake ijazah SMU kamu bisa, tapi kalo mau pake yang DIII juga buru dikirim kopiannya ke sini -Palembang-. Bla bla bla”. Selanjutnya aku tidak mendengar dengan jelas, aku sibuk mengusap bulir-bulir kecil hangat yang merambat turun. Aku mengiyakan dengan nada tegar, "Iya bu, berapa gajinya? Ya ntar Rian kirim...".

Kiki -yang dari tadi tak kulihat karena aku terpejam- lalu mengambil handphone dariku dan melanjutkan pembicaraan mengenai pulang mudik nanti. Aku? Aku langsung membenamkan kepala di bawah bantal -berbentuk tulang, kado ulang tahun dari sahabat G2- sembari terus-terusan mewek. Setelah pembicaraan mereka usai, Kiki bertanya berulang-ulang, "Yuk, kok nangis?". Diam. Aku diam, terisak. Terbayang baru saja kemarin aku membangun pilar-pilar semangat untuk menjadi seorang antropolog wanita Indonesia. Baru saja semalam aku menggarap tugas Metode Penelitian Etnografi dengan SANGAT SANGAT BERSEMANGAT. Salah satu faktornya adalah dia, aku tersenyum kecil membayangkannya. Matanya.

Tak tega membiarkan adikku bertanya tanpa mendapat jawaban, lalu aku berkata singkat dan datar, "Ntar Ki, ga bisa ngomong" sembari terisak-isak. Entah dia dengar atau tidak. Aku masih membenamkan wajahku di balik bantal dan merasakan bahwa dia sudah keluar dari kamarku. Aku? Aku tak membiarkan diriku berbaring di atas kasur terepes dingin itu! Aku langsung mandi, keramas. Ada suara dari luar kamar mandi, "Yuk, kau kenapa?". Singkat aku jawab, "Mandi". Kutuntaskan mandiku dengan ritual mengambil air suci. Hendak mengadu pada Tuhan, jika diizinkan (baca : insya Alloh).
Kulirik ijazah DIII yang teronggok tak berdaya di atas rak buku. Gara-gara aku nge-double kuliah dan telah menyelesaikan salah satunya, bukan berarti aku bisa menarik nafas panjang. Pernah aku ditawari pekerjaan tapi aku tolak dengan alasan perbedaan orientasi. Pekerjaan yang ditawarkan pasti akan banyak duduk, idealnya aku ingin keliling sebagai field worker. Itulah mengapa aku men-double kuliah. Banyak yang bilang bahwa apa yang kulakukan adalah kegilaan. Tak peduli. Tidak adil rasanya, disaat banyak yang mencari kerja aku malah menolak mentah-mentah kesempatan itu. Tapi disaat pilar-pilar semangat untuk kuliah berdiri kokoh, pilar-pilar itu hancur dalam hitungan detik! Terbayang iklan Essenza, pion-pion catur raksasa yang berjatuhan satu-persatu kemudian hancur. Padahal nampanya pion-pion itu besar dan kokoh. Aaah, nafasku kurang panjang rupanya.

Teringat aku pada impian-impian busuk masa sekolah dulu, kuliah dan menjalani hidupku -my own life- sesuai dengan apa yang aku inginkan, tanpa paksaan. Ibu dulu ingin aku jadi dokter umum atau dokter gigi-lah, minimal. Aku iyakan. Bapak dulu ingin aku jadi ambassador. Aku iyakan. Semuanya tidak ada yang tercapai, karena ternyata jauh di dalam lubuk hati, I said NO!. Alasan yang sangat sederhana, bukan? Tapi, kali ini rasanya aku ingin memohon pengertian dan restu ibu bapak untuk melangkah. Meminta sebentuk keikhlasan yang sangat tulus dari mereka sebagai pondasi pilar-pilar semangatku. Menggapai apa yang ingin aku raih. Tapi aku tidak punya kekuasaan untuk berkata tidak, aku masih menyusu pada mereka, mereka punya otoritas atasku. Aaah…

Sekarang aku ada di sini, entah untuk berapa lama. Mungkin sebentar lagi akan kutinggalkan kota berhati nyam-nyam ini. Kulempar jauh pandanganku ke utara, berharap pemandangan gunung di pagi hari dapat kunikmati hari ini. Nihil. Sepasang suami istri penguasa daerah utara itu belum menampakkan diri. Mungkin mereka masih berpelukan, mengusir dinginnya pagi. Kulemparkan pandanganku ke bawah jembatan, seorang lelaki tua duduk menenggelamkan sepersekian bagian pantatnya ke dalam air sembari merokok. Dunia adalah surga baginya. Lalu kuikuti langkah demi langkah para pekerja pagi. Menuju tempat transaksi ekonomi ke arah barat Tugu, sembari berkhayal, jika ada yang bertanya, apa yang paling ngangenin dari Jogja, akan kujawab, “Tidak ada’’. Jika ada yang bertanya, apa yang ngangenin dari Jogja, akan kujawab ,“Semuanya’’. Ah, bulir-bulir itu merambat turun lagi. Pandanganku mengabur, dingin sekali pagi ini.


P.S : sekarang aku di sini, di Jogja lagi, sungguh ga ada yang perlu disesalkan, semuanya adalah pelajaran, dan kenangan, cerita ini aku ambil dari blog lama, sebagai tugas sekolah menulis sesi fiksi... thx juga buat Adis yang dulu harus kucium paksa sewaktu mengantar kepulanganku ke Palembang, neh anak emang bener-bener bikin kangen, thx ya teman-teman (Adis, Echy, Ory, Nunu, kak Bukh)...

Wednesday, November 19, 2008

Learn from Spiderwick

Sumpah ga sengaja nonton film ini (dipinjemin adekku QQ). Sumpah ini lebih mirip film Harry Potter (dari segi penamaan makhluk-makhluknya). Sumpah aku mendapati banyak hal yang terkait dengan antropologi. Sumpah kamu harus nonton filmnya. Tapi sumpah, lebih baek kamu baca dulu tulisanku berikut :

Spiderwick, seorang ilmuwan (entahlah tapi sepertinya iya) mengamati dan mempelajari makhluk-makhluk aneh (baca : luar biasa). Cerita ini memang fiktif belaka. Akan tetapi ada beberapa poin yang saya “tangkap” dari sekelumit kisah tersebut, di antaranya :

  1. Spiderwick mencoba mengamati dan mempelajari apa yang ingin diketahui olehnya. Tidak hanya mengamati, sepenangkapan saya Spiderwick juga mencoba untuk memahami nilai-nilai yang ada dalam “komunitas” tersebut.
  2. Hasil pengamatannya dituangkan dalam sebuah buku “keramat” yang dianggap sebagai hidupnya. Wajar, karena sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mengguratkan huruf demi huruf, gambar demi gambar, simbol demi simbol, hingga mantra dan berbagai ramuan, yang beberapa d antaranya digunakan sebagai pengetahuan untuk menangkal sesuatu yang jahat. Penuangan “pengalaman” tersebut melalui simbol-simbol dilakukan (pastinya) untuk mempermudah pemahaman orang lain dalam membaca hasil karyanya. Juga untuk “mempertegas” apa yang dia maksud dalam tulisannya.
  3. Usaha pengamatan tersebut tidaklah mudah. Dia harus bersabar, untuk menjadi “teman” dari setiap makhluk yang diteliti. Terkadang juga dia harus berusaha untuk memahami “bahasa” yang digunakan oleh makhluk-makhluk aneh (baca : luar biasa). Misalnya, dia harus memahami bahasa Griffin (burung berkepala singa) untuk dapat menjadikannya hewan peliharaan (sekaligus teman).
  4. Setelah menuangkan semua pengalamannya ke dalam buku tersebut, dia memberikan peringatan kepada pembacanya. Bahwa buku itu berbahaya, banyak pihak yang ingin mengetahui “the secret of the life”. Tentu saja bukan kehidupan Spiderwick tetapi kehidupan makhluk-makhluk aneh (baca : luar biasa) tersebut. Dia berusaha menjaga agar buku tersebut tetap aman dalam “lingkaran”. Dengan kata lain ia ingin menjaga nilai-nilai yang ada untuk perlindungan “keselamatan” mereka.
  5. Setelah ada seseorang yang “nekat” melanggar peringatan tersebut dan meminta pertolongan Spiderwick, ia berkata bahwa dirinya (Spiderwick) tidak bisa membantu apa-apa. Karena semua “pengetahuan” itu kini telah “berpindah” kepada si pembaca.

Ada benang merah antara apa yang dilakukan oleh Spiderwick dengan para antropolog, antara lain yaitu :

  1. Tak ubahnya dengan seorang antropolog, Spiderwick tidak hanya mencoba mengamati, akan tetapi juga memahami dan menjaga nilai-nilai yang ada pada pelaku kebudayaan (saya sebut kebudayaan karena saya seorang calon antropolog – cuih bahasanya bikin eneg hahaha).
  2. Sebelum terlambat dilibas masa, pembuatan catatan etnografis (buku haRIAN – kata mas Pujo sih buku monyet karena bentuknya yang kecil dan bisa diselipkan ke dalam saku) adalah langkah penyelamatan data juga sebagai alat “pembelaan” terhadap nilai-nilai yang ada pada diri penulisnya. Penggunaan gambar dan simbol juga hal yang sangat penting karena terkadang tidak cukup melukiskan sesuatu hanya dengan tulisan dan membiarkan pembaca berimajinasi “membangun” sebuah gambaran yang belum tentu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si penulis. Sekarang catatan etnografis bisa dipermudah dengan memasukkan foto (yang diambil dari kamera digital) untuk mendukung tulisan. Sebuah catatan etnografis juga merupakan “nyawa” bagi si penulis karena semua yang dia ketahui “harus” dituangkan ke dalamnya.
  3. Tidaklah etis meneliti (para antropolog dan calon antropolog tolong dibaca : mengamati) suatu masyarakat atau suku bangsa dengan tidak menjadi “teman”, seseorang yang dapat dipercaya. Sebenarnya, bisa saja melakukan penelitian dengan tidak menjadi teman mereka. Akan tetapi terkadang jika ingin mendapatkan sesuatu yang bersifat mendalam, kita mau tidak mau “harus” menjadi temannya. Akan tetapi keterlibatan terlalu jauh dalam hal perasaan, bisa menjebak kita ke dalam perspektif emik. Tentunya hal ini agak sedikit “berbahaya”. Sesuatu itu akan menjadi baik jika sesuai dengan kadarnya, jika kurang atau bahkan berlebih maka tidak akan menjadi sesuatu yang “pas”. Ingat bahwa kita juga mempunyai nilai-nilai yang harus dipegang. Oke, kembali ke pembahasan “menjadi teman”. Totalitas kehidupan manusia sebagai kajian antropologi dikaji oleh perspektif fenomenologi. Bahwa di balik fenomena yang kasat mata ternyata ada bagian-bagian tertentu yang mendalam dan hanya dapat digali melalui pengakuan-pengakuan subjek budaya (noumena). Ingat bahwa “mereka” bukanlah objek tetapi subjek. They do something. Bagaimana kita bisa mendapatkan pengakuan-pengakuan “terpendam” dari mereka jika kita tidak melakukan personal approach dan langsung main “tembak”? Etika. Saya tidak bermaksud untuk emngatakan bahwa pertemanan adalah suatu hal yang mutlak. You can think about it more than me (oh sial pake bahasa apa aku tadi???). Bahasa? Oh sepertinya saya lupa membahas item bahasa dalam kaitannya dengan poin 3 di atas. Oke, memahami bahasa pelaku budaya adalah penting. Akan tetapi saya tidak setuju dengan pendapat mbah Malinowski yang mengatakan bahwa kita (peneliti) harus mempelajari bahasa mereka (baca : subjek budaya) dengan baik barulah merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan dengan “kondisi” mereka. God, saya tahu bahwa dulu mbah Malinowski mengalami kesulitan dalam mengamati (entah, saya mulai sedikit muak -tidak suka- dengan kata meneliti, ada kesan yang “tidak baik” di dalamnya, I think) suku Trobian di Andaman. Mbah Malinowski sempat “merajuk” karena kendala bahasa tersebut. Menurut hemat saya, wajar saja karena yang beliau teliti adalah suku terasing. Zaman mbah Malinowski juga sudah terlampau jauh dengan waktu sekarang. Sekarang antropologi bergerak, tidak hanya mengamati suku terasing tapi juga masyarakat modern (persetan mereka yang bialang kalo kerjaan antropolog itu berkutat pada suku terasing yang sama sekali primitif! How dare you!). Seiring dengan revolusi antropologi itu, kendala bahasa bukan sesuatu yang boleh ditakuti lagi (including me). Tahu alasannya? Karena pada beberapa kasus, kita dapat menggunakan bahasa nasional atau bahkan internasional untuk berkomunikasi. Ingat bahwa saya tadi mengatakan bahwa antropologi bergerak. Got it? Kemudian, jika pendapat mbah Malinowski (sumpah saya tidak bermaksud lancang terhadapmu, mbah) saya benarkan, maka hal pertama yang harus dilakukan untuk mengamati adalah mempelajari bahasa (huaaah agak berat bagi saya) maka saya mematahkan perkataan beberapa dosen yang mengatakan bahwa awal dari sebuah pengamatan (oke, kalian boleh baca : penelitian) adalah pertanyaan. Apa yang terbayang di benak saya adalah begini : saya berangkat ke Jepang (misalnya) untuk mengadakan pengamatan dan yang harus saya takutkan adalah perbedaan bahasa. Saya tiba di tanah Jepang (pengen banget dari dulu hiks, sabar) tanpa menggenggam sebuah pertanyaan. Lantas apa yang harus saya lakukan??? Better to sleep tight on the bed! Apalagi bahasa Jepang tidak hanya bunyi, tetapi juga simbol (kanji hiragana katakana) yang tidak akan pernah saya hapalkan semuanya! Lain halnya jika saya tiba dengan menggenggam sebuah pertanyaan. Maka langkah saya selanjutnya akan tertuju pada “sesuatu” yang “mungkin” bisa menjawab pertanyaan saya. Ingat bahwa ada kekuatan mengamati yang mungkin tidak dimiliki oleh non-antropolog. Dari pengamatan kita dapat “menceritakan” sesuatu. Jika ingin lebih mendalam, maka kita butuh bahasa. So, so far apakah kamu mendapatkan apa yang saya maksudkan? Tidak??? Oh nooo! Apakah saya terlalu berbelat-belit??? Oke, begini, bahwasannya saya tidak setuju bahwa kita harus berangkat dari keinginan untuk “mendalami” bahasa dan bukannya merumuskan suatu pertanyaan. Semoga saya tidak terlalu berapi-api. Ingat, saya tidak mengatakan bahwa kemampuan berbahasa itu tidak penting. Of course it’s important, tapi pada kondisi yang seperti apa? Pembahasan poin 3 ini teramat sangat panjang sekali!
  4. Peringatan bahaya yang diberikan oleh Spiderwick juga harus dipahami oleh peneliti. Bahaya di sini dimaksudkan sebagai “the secret” yang dipahami sebagai kekayaan noumena. Ada nilai-nilai yang harus dijaga. Diilhami oleh Nunu, maka saya juga akan menjawab, “Oh antropologi itu ilmu menjajah, untuk pertanyaan “Eh, apa sih antropologi tuh? Nggali situs ya? Mempelajari suku terasing ya???”. Juga untuk sederetan pertanyaan yang berhubungan darah (bersaudara-bertalian) dengan itu. Berangkat dari awalnya disiplin antropologi (jika saya sebut ilmu antropologi maka saya bodoh, anthropos dan logos = ilmu manusia, ilmu antropologi = ilmu ilmu manusia) sebagai “alat” untuk mempelajari bangsa lain kemudian dijajah, semoga antropolog sekarang lebih bijak dalam menerapkan tujuan pengamatannya. Jika untuk tujuan baik, silahkan, go ahead, tapi jika untuk tujuan jahat, please don’t do that! Apa sih RIAN nih???
  5. Pengetahuan yang berpindah dari Spiderwick ke si pembaca buku keramat, mengindikasikan bahwa apapun yang akan dilakukan setelah membacanya sepenuhnya menjadi hak si pembaca. Maka dari itu, jadilah pembaca yang bijak (buat saya juga hahaha). Juga, bukan berarti setelah membaca maka semua pengetahuan dirasa cukup. Kata mas Pujo, semakin banyak membaca, bukan semakin banyak tahu tapi semakin bodoh (baca : ingin tahu). Tidak berarti bahwa sebuah pengamatan yang sudah pernah dilakukan tidak berpotensi untuk dikaji ulang, semakin banyak pengkajian, semakin akan menjadi menarik. Haduh haduh, bukan juga berarti kita tidak boleh melakukan pengamatan lain. Sebenarnya ini ditujukan untuk saya. Saya memilih tema yang pernah dilakukan oleh orang lain akan tetapi saya meyakinkan bahwa : lain ladang lain belalang hehehe...

Sepenggal pelajaran dari film Spiderwick (maaf lupa judul lengkapnya hahaha)...


P.S : kebudayaan yang tidak diperhatikan sekarang mungkin esok sudah hilang tanpa meninggalkan jejak... Huek! Sok puitis!